Indonesia – Tanah Air Kita

Indonesia

 

Republik Indonesia
Bendera Lambang
MottoBhinneka Tunggal Ika
(Bahasa Jawa Kuno: “Berbeda-beda tetapi tetap Satu”)
Ideologi nasional: Pancasila
Lagu kebangsaan

Indonesia Raya

Ibu kota
(dan kota terbesar)
Jakarta
6°10.5′S 106°49.7′E / 6.175°LS 106.8283°BT
Bahasa resmi Bahasa Indonesia
Pemerintahan Republik presidensial
 - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
 - Wakil Presiden Boediono
 - Ketua MPR Taufiq Kiemas
 - Ketua DPR Marzuki Alie
 - Ketua DPD Irman Gusman
Legislatif Majelis Permusyawaratan Rakyat
 - Majelis Tinggi Dewan Perwakilan Daerah
 - Majelis Rendah Dewan Perwakilan Rakyat
Kemerdekaan dari Belanda
 - Diproklamasikan 17 Agustus 1945
 - Diakui (sebagai RIS) 27 Desember 1949
 - Kembali ke RI 17 Agustus 1950
Luas
 - Total 1,904,569 km2 (15)
 - Air (%) 4,85%
Penduduk
 - Perkiraan 19 Juni 2009 230.472.833[1] (4)
 - Sensus 2010 237.556.363[2]
 - Kepadatan 124/km2 (84)
PDB (KKB) Perkiraan 2011
 - Total Rp. 10,706 triliun
(AS$ 1,121 miliar)[3]
 - Per kapita Rp. 44,885 juta
(AS$ $4.700)[3]
PDB (nominal) Perkiraan 2011
 - Total Rp. 4,821 triliun
(AS$ 846 miliar)[3] (17)
 - Per kapita Rp. 36,261 juta
(AS$ 3.797)[3] (110)
IPM (2006) ▲ 0.734[4] (menengah) (111)
Mata uang Rupiah (Rp) (IDR)
Zona waktu WIB (+7), WITA (+8), WIT (+9)
Lajur kemudi Kiri
Ranah Internet .id
Kode telepon +62
lihat • bicara • sunting

Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau,[5][6] oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara (“pulau luar”, di samping Jawa yang dianggap pusat).[7] Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006,[8] Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan darat dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.

Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya di Palembang menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia yang saat itu bernama Hindia-Belanda menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.

Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, Bhinneka tunggal ika (“Berbeda-beda tetapi tetap satu”), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.

Indonesia juga anggota dari PBB dan satu-satunya anggota yang pernah keluar dari PBB, yaitu pada tanggal 7 Januari 1965, dan bergabung kembali pada tanggal 28 September 1966 dan Indonesia tetap dinyatakan sebagai anggota yang ke-60, keanggotaan yang sama sejak bergabungnya Indonesia pada tanggal 28 September 1950. Selain PBB, Indonesia juga merupakan anggota dari ASEAN, APEC, OKI, G-20 dan akan menjadi anggota dari OECD.

Daftar isi

Etimologi

Kata “Indonesia” berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indus yang berarti “Hindia” dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti “pulau”.[9] Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat.[10] Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk “Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu”.[11] Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India.[12] Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia-Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia (Indië); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859), ditulis oleh Multatuli, mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).[7]

Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik.[7] Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau pada tahun 1913.[10]

Sejarah

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Indonesia
Lihat pula: Sejarah Nusantara

Sejarah awal

Peninggalan fosil-fosil Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki “Manusia Jawa“, menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu.[13] Bangsa Austronesia, yang membentuk mayoritas penduduk pada saat ini, bermigrasi ke Asia Tenggara dari Taiwan. Mereka tiba di sekitar 2000 SM, dan menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan.[14] Kondisi tempat yang ideal bagi pertanian, dan penguasaan atas cara bercocok tanam padi setidaknya sejak abad ke-8 SM,[15] menyebabkan banyak perkampungan, kota, dan kerajaan-kerajaan kecil tumbuh berkembang dengan baik pada abad pertama masehi. Selain itu, Indonesia yang terletak di jalur perdagangan laut internasional dan antar pulau, telah menjadi jalur pelayaran antara India dan Cina selama beberapa abad.[16] Sejarah Indonesia selanjutnya mengalami banyak sekali pengaruh dari kegiatan perdagangan tersebut.[17]

Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.

Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Malayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Cina Selatan.[18] Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut “Zaman Keemasan” dalam sejarah Indonesia.[19]

Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15.[20] Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Kolonialisme

Indonesia juga merupakan negara yang dijajah oleh banyak negara Eropa dan juga Asia, itu disebabkan Indonesia sejak zaman dahulu merupakan negara yang kaya akan hasil alamnya yang melimpah, hingga membuat negara-negara Eropa tergiur untuk menjajah dan bermaksud menguasai sumber daya alamnya untuk pemasukan bagi negaranya, Negara-negara yang pernah menjajah diantaranya adalah;

  • Portugis pada tahun 1509, hanya Maluku, lalu berhasil diusir pada pada tahun 1595
  • Spanyol pada tahun 1521, hanya Sulawesi Utara, tetapi berhasil diusir pada tahun 1692.
  • Belanda pada tahun 1602, seluruh wilayah Indonesia.
  • Perancis secara tidak langsung menguasai Jawa pada periode 1806-1811 karena Kerajaan Belanda takluk kepada kekuatan Perancis. Ketika Louis Bonaparte adik Napoleon Bonaparte naik takhta Belanda pada tahun 1806, maka secara otomatis jajahan Belanda jatuh ke tangan Perancis. Periode ini berlangsung pada pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1808-1811. Berakhir pada tahun 1811 ketika Inggris mengalahkan kekuatan Belanda-Perancis di pulau Jawa.
  • Inggris pada tahun 1811, sejak ditandatanganinya Kapitulasi Tungtang yang salah satunya berisi penyerahan Pulau Jawa dari Belanda kepada Inggris, Pada tahun 1814 dilakukanlah Konvensi London yang isinya pemerintah Belanda berkuasa kembali atas wilayah jajahan Inggris di Indonesia. Lalu baru pada tahun 1816, pemerintahan Inggris di Indonesia secara resmi berakhir..
  • Jepang pada tahun 1942, hanya 3,5 tahun, dan berakhir pada tahun 1945, sejak kekalahan Jepang kepada sekutu.

Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel.[21] Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.

Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel.

Di bawah sistem Cultuurstelsel (Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC. Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika,[22] yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia-Belanda.

Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943.

Indonesia merdeka

Soekarno, presiden pertama Indonesia.

Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang pada saat itu sedang bulan Ramadhan. Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.

Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal oleh orang Belanda sebagai ‘aksi kepolisian’ (Politionele Actie), atau dikenal oleh orang Indonesia sebagai Agresi Militer.[23] Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada 27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutama Amerika Serikat. Mosi Integral Natsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti sekaligus merintis gerakan non-blok pada awalnya, kemudian menjadi lebih dekat dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Cina dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia (“Konfrontasi“),[24] dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S yang menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya. Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinya Orde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional menjadi berdasarkan paham sosialis-komunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno.

Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, tiga pendiri Indonesia.

Jenderal Soeharto menjadi presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme. Sementara itu kondisi fisik Soekarno sendiri semakin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya. Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama.

Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom lulusan Departemen Ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil “Mafia Berkeley“.[25] Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.

Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004 pemilu satu hari terbesar di dunia[26] diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah berusaha untuk mendapatkan kemerdekaan, terutama Papua. Timor Timur akhirnya resmi memisahkan diri pada tahun 1999 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.

Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantam Pantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.

Politik dan pemerintahan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Politik Indonesia

Gedung MPR-DPR

Istana Negara, bagian dari Istana Kepresidenan Jakarta.

Indonesia menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

MPR pernah menjadi lembaga tertinggi negara unikameral, namun setelah amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi, dan komposisi keanggotaannya juga berubah. MPR setelah amandemen UUD 1945, yaitu sejak 2004 menjelma menjadi lembaga bikameral yang terdiri dari 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan wakil rakyat melalui Partai Politik, ditambah dengan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen.[27] Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik untuk masa jabatan lima tahun. Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan dan TNI/Polri. MPR saat ini diketuai oleh Taufiq Kiemas. DPR saat ini diketuai oleh Marzuki Alie, sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Irman Gusman.

Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidensial sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun demikian, Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat juga menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politik untuk duduk di kabinetnya. Tujuannya untuk menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga legislatif di Indonesia. Namun pos-pos penting dan strategis umumnya diisi oleh menteri tanpa portofolio partai (berasal dari seseorang yang dianggap ahli dalam bidangnya).

Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi, termasuk pengaturan administrasi para hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan.

Pembagian administratif

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Provinsi Indonesia

Indonesia saat ini terdiri dari 34 provinsi, lima di antaranya memiliki status yang berbeda. Provinsi dibagi menjadi 403 kabupaten dan 98 kota yang dibagi lagi menjadi kecamatan dan lagi menjadi kelurahan, desa, gampong, kampung, nagari, pekon, atau istilah lain yang diakomodasi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tiap provinsi memiliki DPRD Provinsi dan gubernur; sementara kabupaten memiliki DPRD Kabupaten dan bupati; kemudian kota memiliki DPRD Kota dan wali kota; semuanya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilu dan Pilkada. Bagaimanapun di Jakarta tidak terdapat DPR Kabupaten atau Kota, karena Kabupaten Administrasi dan Kota Administrasi di Jakarta bukanlah daerah otonom.

Provinsi Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, dan Papua memiliki hak istimewa legislatur yang lebih besar dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Contohnya, Aceh berhak membentuk sistem legal sendiri; pada tahun 2003, Aceh mulai menetapkan hukum Syariah.[28] Yogyakarta mendapatkan status Daerah Istimewa sebagai pengakuan terhadap peran penting Yogyakarta dalam mendukung Indonesia selama Revolusi.[29] Provinsi Papua, sebelumnya disebut Irian Jaya, mendapat status otonomi khusus tahun 2001.[30] DKI Jakarta, adalah daerah khusus ibukota negara. Timor Portugis digabungkan ke dalam wilayah Indonesia dan menjadi provinsi Timor Timur pada 1979–1999, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.[31]

Provinsi di Indonesia dan ibukotanya
Pulau Sumatera

Pulau Jawa

Kepulauan Sunda Kecil

Pulau Kalimantan

Pulau Sulawesi

Kepulauan Maluku

Pulau Papua

l • b • sDaftar ibu kota provinsi di Indonesia Bendera Indonesia
Ibu kota negara: DKI Jakarta
Sumatera
Coat of Arms of Indonesia Garuda Pancasila.svg
Jawa
Kalimantan
Bali dan Nusa Tenggara
Sulawesi
Maluku dan Papua

Geografi

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Indonesia

Lihat pula: Peta Asia dan Jumlah pulau di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara[32] yang memiliki 17.504 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni[33], yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis. Posisi Indonesia terletak pada koordinat 6°LU – 11°08′LS dan dari 95°’BT – 141°45′BT serta terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania.

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, dimana setengah populasi Indonesia bermukim. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan territorial laut: 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif: 200 mil laut,[34] searah penjuru mata angin, yaitu:

Utara Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km[33], Singapura, Filipina, dan Laut Cina Selatan
Selatan Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia
Barat Samudra Indonesia
Timur Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km[33], Timor Leste, dan Samudra Pasifik

Sumber daya alam

Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km[35]

Pendidikan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pendidikan di Indonesia

Sesuai dengan konstitusi yang berlaku, yaitu berdasarkan UUD 1945 pasal 31 ayat 4 dan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pemerintah Indonesia baik pusat maupun daerah mesti mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD diluar gaji pendidik dan biaya kedinasan. Namun pada tahun 2007 alokasi yang disediakan tersebut baru sekitar 17.2 %, jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara Malaysia, Thailand dan Filipina yang telah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan lebih dari 28 %[36].

Ekonomi

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi Indonesia

Peta yang menunjukkan Produk Domestik Regional Bruto per kapita provinsi-provinsi Indonesia pada tahun 2008 atas harga berlaku. PDRB per kapita provinsi Kalimantan Timur mencapai Rp.100 juta manakala PDRB per kapita Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timurkurang dari Rp.5 juta.

██ Lebih dari Rp.100 juta ██ Rp.50 juta ++ – Rp.100 juta ██ Rp.40 juta ++ – Rp.50 juta ██ Rp.30 juta ++ – Rp.40 juta ██ Rp.20 juta ++ – Rp.30 juta ██ Rp.10 juta ++ – Rp.20 juta ██ Rp.5 juta ++ – Rp.10 juta ██ Kurang dari Rp.5 juta

Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah.

Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.[37]

Uang rupiah.

Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing.[37] Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981.[37] Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali,[37] selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997[38] Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu,[39] yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.

Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut.[40] Namun demikian, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam memengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%.[41][42] Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49,0% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.[43]

Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet.[44] Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB 2005. Sedangkan sektor industri menyumbang 40,7%, dan sektor pertanian menyumbang 14,0%.[45] Meskipun demikian, sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3% dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri sebesar 18,8%.[46]

Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.

Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007.[47]

 

Peringkat internasional

Organisasi Nama Survey Peringkat
Heritage Foundation/The Wall Street Journal Indeks Kebebasan Ekonomi 110 dari 157[48]
The Economist Indeks Kualitas Hidup 71 dari 111[49]
Reporters Without Borders Indeks Kebebasan Pers 103 dari 168[50]
Transparency International Indeks Persepsi Korupsi 143 dari 179[51]
United Nations Development Programme Indeks Pembangunan Manusia 108 dari 177[52]
Forum Ekonomi Dunia Laporan Daya Saing Global 51 dari 122[53]

Demografi

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Demografi Indonesia

Kepadatan penduduk Indonesia menurut Sensus 2010

Menurut sensus penduduk 2000, Indonesia memiliki populasi sekitar 206 juta,[54] dan diperkirakan pada tahun 2006 berpenduduk 222 juta.[8] 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak sekaligus pulau dimana ibukota Jakarta berada.[55] Sebagian besar (95%) penduduk Indonesia adalah Bangsa Austronesia, dan terdapat juga kelompok-kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia terutama di Indonesia bagian Timur. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan Minangkabau.

Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas di antaranya adalah etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke Nusantara melalui perdagangan sejak abad ke 8 M dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 4 juta populasi etnis Tionghoa.[56] Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930 dan 2000 pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.

Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.[44] Sisanya beragama Protestan (8,9%), Katolik (3%), Hindu (1,8%), Buddha (0,8%), dan lain-lain (0,3%). Selain agama-agama tersebut, pemerintah Indonesia juga secara resmi mengakui Konghucu.[57]

Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi negara, yaitu bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.

 l • b • s Kota-kota besar di Indonesia
Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 9.607.787 Indonesia
Indonesia
7 Depok Jawa Barat 1.738.570
2 Surabaya Jawa Timur 2.765.487 8 Semarang Jawa Tengah 1.555.984
3 Bandung Jawa Barat 2.394.873 9 Palembang Sumatera Selatan 1.455.284
4 Bekasi Jawa Barat 2.334.871 10 Makassar Sulawesi Selatan 1.338.663
5 Medan Sumatera Utara 2.097.610 11 Tangerang Selatan Banten 1.290.322
6 Tangerang Banten 1.798.601 12 Batam Kepulauan Riau 1.137.894

Kebudayaan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Budaya Indonesia

Pertunjukan

Wayang kulit warisan budaya Jawa.

Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.

Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.

Busana

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar busana daerah Indonesia

Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia.

Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya dan juga Pekalongan. Kerajinan batik ini pun diklaim oleh negara lain dengan industri batiknya.[58] Busana asli Indonesia dari Sabang sampai Merauke lainnya dapat dikenali dari ciri-cirinya yang dikenakan di setiap daerah antara lain baju kurung dengan songketnya dari Sumatera Barat (Minangkabau), kain ulos dari Sumatera Utara (Batak), busana kebaya, busana khas Dayak di Kalimantan, baju bodo dari Sulawesi Selatan, busana berkoteka dari Papua dan sebagainya.

Arsitektur

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Arsitektur Indonesia

Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles.

Arsitektur Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan geografi yang membentuk Indonesia seutuhnya. Kaum penyerang, penjajah, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya dengan memberi dampak pada gaya dan teknik bangunan. Tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Cina, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa menjadi cukup dominan.

Ciri khas arsitektur Indonesia kuno masih dapat dilihat melalui rumah-rumah adat dan/atau istana-istana kerajaan dari tiap-tiap provinsi. Taman Mini Indonesia Indah, salah satu objek wisata di Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia, menampilkan keanekaragaman arsitektur Indonesia itu. Beberapa bangunan khas Indonesia misalnya Rumah Gadang, Monumen Nasional, dan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Institut Teknologi Bandung.

Olahraga

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Olahraga Indonesia

Olahraga yang paling populer di Indonesia adalah bulu tangkis dan sepak bola; Liga Super Indonesia adalah liga klub sepak bola utama di Indonesia. Olahraga tradisional termasuk sepak takraw dan karapan sapi di Madura. Di wilayah dengan sejarah perang antar suku, kontes pertarungan diadakan, seperti caci di Flores, dan pasola di Sumba. Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Olahraga di Indonesia biasanya berorientasi pada pria dan olahraga spektator sering berhubungan dengan judi yang ilegal di Indonesia.[59]

Di ajang kompetisi multi cabang, prestasi atlet-atlet Indonesia tidak terlalu mengesankan. Di Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia diraih pada saat Olimpiade 1992, dimana Indonesia menduduki peringkat 24 dengan meraih 2 emas 2 perak dan 1 perunggu. Pada era 1960 hingga 2000, Indonesia merajai bulu tangkis. Atlet-atlet putra Indonesia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky merajai kejuaraan-kejuaraan dunia. Rudi Hartono yang dianggap sebagai maestro bulu tangkis dunia, menjadi juara All England terbanyak sepanjang sejarah. Selain bulu tangkis, atlet-atlet tinju Indonesia juga mampu meraih gelar juara dunia, seperti Elyas Pical, Nico Thomas[60], dan Chris John.[61]

Seni musik

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Musik Indonesia

Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta,[62] yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.

Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia ‘dicuri’ oleh negara lain[63] untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni budaya dari Indonesia. Alat musik tradisional Indonesia antara lain meliputi:

  • Gondang Batak
  • Gong Kemada
  • Gong Lambus
  • Jidor
  • Kecapi Suling
  • Kulcapi Batak
  • Kendang Jawa
  • Serunai
  • Seurune Kale
  • Suling Lembang
  • Sulim Batak
  • Suling Sunda
  • Talempong
  • Tanggetong
  • Tifa, dan sebagainya

Boga

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Masakan Indonesia

Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis.

Masakan Indonesia bervariasi bergantung pada wilayahnya.[64] Nasi adalah makanan pokok dan dihidangkan dengan lauk daging dan sayur. Bumbu (terutama cabai), santan, ikan, dan ayam adalah bahan yang penting.[65]

Sepanjang sejarah, Indonesia telah menjadi tempat perdagangan antara dua benua. Ini menyebabkan terbawanya banyak bumbu, bahan makanan dan teknik memasak dari bangsa Melayu sendiri, India, Timur tengah, Tionghoa, dan Eropa. Semua ini bercampur dengan ciri khas makanan Indonesia tradisional, menghasilkan banyak keanekaragaman yang tidak ditemukan di daerah lain. Bahkan bangsa Spanyol dan Portugis, telah mendahului bangsa Belanda dengan membawa banyak produk dari dunia baru ke Indonesia.

Sambal, sate, bakso, soto, dan nasi goreng merupakan beberapa contoh makanan yang biasa dimakan masyarakat Indonesia setiap hari.[66] Selain disajikan di warung atau restoran, terdapat pula aneka makanan khas Indonesia yang dijual oleh para pedagang keliling menggunakan gerobak atau pikulan. Pedagang ini menyajikan bubur ayam, mie ayam, mi bakso, mi goreng, nasi goreng, aneka macam soto, siomay, sate, nasi uduk, dan lain-lain.

Rumah makan Padang yang menyajikan nasi Padang, yaitu nasi disajikan bersama aneka lauk-pauk Masakan Padang, mudah ditemui di berbagai kota di Indonesia. Selain itu Warung Tegal yang menyajikan masakan Jawa khas Tegal dengan harga yang terjangkau juga tersebar luas. Nasi rames atau nasi campur yang berisi nasi beserta lauk atau sayur pilihan dijual di warung nasi di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api, pasar, dan terminal bus. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dikenal nasi kucing sebagai nasi rames yang berukuran kecil dengan harga murah, nasi kucing sering dijual di atas angkringan, sejenis warung kaki lima. Penganan kecil semisal kue-kue banyak dijual di pasar tradisional. Kue-kue tersebut biasanya berbahan dasar beras, ketan, ubi kayu, ubi jalar, terigu, atau sagu.

Perfilman

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perfilman Indonesia

Poster film Tjoet Nja’ Dhien (1988), film tentang pahlawan nasional Indonesia asal Aceh.

Film pertama yang diproduksi pertama kalinya di nusantara adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp pada zaman HindiaBelanda. Film ini dibuat dengan aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung. Setelah itu, lebih dari 2.200 film diproduksi. Di masa awal kemerdekaan, sineas-sineas Indonesia belum banyak bermunculan. Di antara sineas yang ada, Usmar Ismail merupakan salah satu sutradara paling produktif, dengan film pertamanya Harta Karun (1949). Namun kemudian film pertama yang secara resmi diakui sebagai film pertama Indonesia sebagai negara berkedaulatan adalah film Darah dan Doa (1950) yang disutradarai Usmar Ismail. Dekade 1970 hingga 2000-an, Arizal muncul sebagai sutradara film paling produktif. Tak kurang dari 52 buah film dan 8 judul sinetron dengan 1.196 episode telah dihasilkannya.

Popularitas industri film Indonesia memuncak pada tahun 1980-an dan mendominasi bioskop di Indonesia,[67] meskipun kepopulerannya berkurang pada awal tahun 1990-an. Antara tahun 2000 hingga 2005, jumlah film Indonesia yang dirilis setiap tahun meningkat.[67] Film Laskar Pelangi (2008) yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata menjadi film dengan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia saat ini.

Kesusastraan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sastra Indonesia

Bukti tulisan tertua di Indonesia adalah berbagai prasasti berbahasa Sanskerta pada abad ke-5 Masehi. Figur penting dalam sastra modern Indonesia termasuk: pengarang Belanda Multatuli yang mengkritik perlakuan Belanda terhadap Indonesia selama zaman penjajahan Belanda; Muhammad Yamin dan Hamka yang merupakan penulis dan politikus pra-kemerdekaan;[68] dan Pramoedya Ananta Toer, pembuat novel Indonesia yang paling terkenal.[69] Selain novel, sastra tulis Indonesia juga berupa puisi, pantun, dan sajak. Chairil Anwar merupakan penulis puisi Indonesia yang paling ternama. Banyak orang Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, yang membantu mendefinisikan dan memelihara identitas budaya mereka.[70] Kebebasan pers di Indonesia meningkat setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto. Stasiun televisi termasuk sepuluh stasiun televisi swasta nasional, dan jaringan daerah yang bersaing dengan stasiun televisi negeri TVRI. Stasiun radio swasta menyiarkan berita mereka dan program penyiaran asing. Dilaporkan terdapat 20 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2007.[71] Penggunaan internet terbatas pada minoritas populasi, diperkirakan sekitar 8.5%.

Lingkungan hidup

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Flora Indonesia dan Fauna Indonesia

Rafflesia arnoldii bunga terbesar di dunia, diameternya mencapai 1,3 meter.

Komodo, hewan reptil langka khas dari Nusa Tenggara.

Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi sehingga oleh beberapa pihak wilayah ekologi Indonesia disebut dengan istilah “Mega biodiversity” atau “keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi”[72][73] umumnya dikenal sebagai Indomalaya atau Malesia bedasarkan penelitian bahwa 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, 25 persen ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia, padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Kekayaan makhluk hidup Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo. [74]

Meskipun demikian, Guinness World Records pada 2008 pernah mencatat rekor Indonesia sebagai negara yang paling kencang laju kerusakan hutannya di dunia. Setiap tahun Indonesia kehilangan hutan seluas 1,8 juta hektar. Kerusakan yang terjadi di daerah hulu (hutan) juga turut merusak kawasan di daerah hilir (pesisir).[75] Menurut catatan Down The Earth, proyek Asian Development Bank (ADB) di sektor kelautan Indonesia telah memicu terjadinya alih fungsi secara besar-besaran hutan bakau menjadi kawasan pertambakan. Padahal hutan bakau, selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi, merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan. Kehancuran hutan bakau tersebut mengakibatkan nelayan harus mencari ikan dengan jarak semakin jauh dan menambah biaya operasional mereka dalam mencari ikan. Selain itu, hancurnya hutan bakau juga mengakibatkan semakin rentannya kawasan pesisir Indonesia terhadap terjangan air pasang laut dan banjir, terlebih di musim hujan.[76]

Lihat Pula

Indonesia – Tempat Adam & Hawa – The Lost Atlantis – (2)

Catatan: The cataclysms api dan air di seluruh dunia sejauh yang kita bicarakan dalam esai ini secara ketat ilmiah. Mereka secara luas dibuktikan dalam catatan geologis, yang umumnya diterima oleh Geologi modern. Jadi adalah kepunahan besar-besaran segala macam spesies, dan terutama dari mamalia besar yang terjadi pada akhir Zaman Es Pleistocene, beberapa 11.600 tahun yang lalu. Sekitar 70% dari spesies mantan mamalia besar yang ada di era mantan punah itu, termasuk, kemungkinan besar, dua spesies manusia, Neanderthal dan Cro-Magnons, yang punah lebih atau kurang pada zaman ini.

Hanya mekanisme untuk akhir Zaman Es Pleistocene – yang merupakan fakta tertentu, tetapi sejauh ini belum jelas oleh Science – yang baru dan kita sendiri. Kami mengusulkan bahwa peristiwa dramatis ini disebabkan oleh ledakan besar dari gunung berapi Krakatau (atau mungkin yang lain), yang membuka Selat Sunda, memisahkan pulau Jawa dan Sumatera, di Indonesia.

[FOOTNOTE: Teks ini ditulis sekitar sepuluh tahun yang lalu, dan baru sekarang sedang direvisi dan diperbarui (Januari 2002). Banyak temuan dan prediksi baru-baru ini secara empiris dikonfirmasi oleh Sains sejak, lalu. Salah satunya adalah konfirmasi dramatis keberadaan benua raksasa sekarang cekung ke selatan Asia Tenggara dan Cina, tepatnya seperti yang diperkirakan oleh diri kita sendiri. Konfirmasi ini didapatkan oleh satelit mata-mata NASA yang NOAA, dan hanya baru-baru ini dibuka untuk publik, seperti yang kita komentar di situs ini. Selain itu, seperti sekarang kita bahas, bentuk dan fitur yang tepat yang diperkirakan oleh diri kita sendiri dengan alasan yang sama sekali berbeda (soundings batimetri).

Fakta lain yang penting adalah penemuan bahwa tanggal bencana yang menyebabkan akhir Pleistocene Ice Age - sangat mungkin acara Heinrich, seperti yang cepat menjadi jelas - tidak hanya tiba-tiba dan brutal, tetapi terjadi pada tanggal ditetapkan oleh Plato, bahwa dari 11.600 tahun yang lalu. Jadi, tampaknya filsuf tua benar setelah semua, meskipun fakta bahwa para ilmuwan masih gigih menolak untuk percaya pada realitas bencana banjir. Sifat dari bencana yang menyebabkan akhir Pleistocene Ice Age - Heinrich Events saja disebutkan - juga tampaknya menjadi hasil dari peristiwa preconized oleh diri kita sendiri sekitar 20 tahun yang lalu, yaitu hasil dari invasi maritim raksasa yang disebabkan oleh raksasa tsunami, mereka sendiri disebabkan oleh letusan supervolcanic ledakan, seperti yang dibahas dalam teks ini.

Para ilmuwan belum menyadari penyebab sebenarnya Heinrich Events, tapi saya yakin mereka akan segera, ketika mereka menyadari ketidakmungkinan mengucapkan mekanisme sekarang memegang telah bertanggung jawab untuk mereka: memecah terbuka danau raksasa dibendung oleh gletser sendiri. Seperti beberapa ahli geologi dari catatan telah mengatakan, pembendungan ini tidak mungkin untuk alasan yang baik beberapa, salah satunya kurangnya resistensi mekanis pada bagian mereka. Pengurangan gletser Albedo oleh deposisi jelaga juga telah diusulkan sebagai penyebabnya, sama seperti kita diprediksi akan. Dengan kata lain, meskipun tidak ada nabi, prediksi kami ternyata cukup akurat. Pada kenyataannya, mereka jelas di belakang, karena mereka begitu logis. Dan mereka, meskipun non-kanonik, semua sangat ilmiah, karena saya seorang ilmuwan profesional sendiri, dan cukup digunakan untuk melakukan ilmu, konvensional atau tidak. Dalam waktu, teori saya akan menciptakan paradigma baru untuk kedua Sains dan Agama yang tampaknya berada di datang untuk milenium baru kita. Ini adalah sedikit pedih, namun, untuk menjadi semacam Cassandra, ditakdirkan untuk kafir oleh satu dan semua, meskipun kebenaran nubuat saya. Domine, dignus jumlah non.]

Ini ledakan raksasa secara luas dibuktikan dalam segala macam mitos dan tradisi seperti yang menyangkut Atlantis dan Paradise, memang terletak di wilayah dunia. Hal ini universal dikenang sebagai ledakan Gunung Paradise (= Mt Krakatau,. Atlas, Sinai, Zion, Alborj, Qaaf, Golgota, Meru, dll) dan banjir itu disebabkan, dari mana mereka semua berbicara obsesif sebagai Universal Banjir dan Conflagration Universal.

Ledakan Mt. Krakatau menyebabkan tsunami raksasa, yang melanda dataran rendah Atlantis dan Lemuria. Hal ini juga memicu berakhirnya Zaman Es terakhir dengan menutup gletser benua dengan lapisan jelaga (fly ash) yang dipercepat pencairan mereka dengan meningkatkan penyerapan sinar matahari. Tsunami raksasa itu disebabkan juga mengakibatkan invasi maritim dari benua yang mengelilingi wilayah Pasifik dan, di atas semua, dari wilayah Antartika. Hasilnya adalah bahwa gletser itu melayang oleh perairan ini menyerang dan dibawa kembali ke laut, ketika air kembali ke sana. Proses ini baru-baru ini telah dikonfirmasi oleh penelitian geologi dan oseanografi, dan disebut Heinrich Events. Ini berkaitan dengan bencana akhir zaman Es Pleistocene, dan tiba-tiba dan brutal.

Para meltwaters dari gletser – ditutupi oleh jelaga atau terbawa sebagai gletser dan banquises – mengalir ke lautan, meningkatkan permukaan laut sekitar 100-150 meter. Kenaikan besar di permukaan laut menciptakan strain yang luar biasa dan tekanan dalam kerak bumi karena berat ekstra pada dasar laut dan rebound isostatic dari benua, dikurangi dari berat kolosal mil-tebal gletser yang sebelumnya menutupi mereka. Kerak kemudian retak terbuka di titik-titik lemah, melahirkan lanjut letusan gunung berapi, dan gempa bumi lebih lanjut dan tsunami yang fedback (positif) proses, melanjutkan hal itu sampai selesai. Hasilnya adalah akhir dramatis dari Zaman Es Pleistocene dan disebut Kepunahan Kuarter yang kami sebutkan di atas.

pengantar

Semua bangsa, sepanjang masa, percaya adanya surga Primordial Man mana berasal dan dikembangkan peradaban tinju yang pernah. Cerita ini, nyata dan benar, diceritakan dalam Alkitab dan dalam Buku Hindu Kudus seperti Rig Veda, Purana dan banyak lainnya. Bahwa Paradise ini berbaring “terhadap Orient” tidak ada keraguan, kecuali beberapa mati-keras ilmuwan yang tanpa emosi memegang bahwa peradaban yang berbeda dikembangkan secara independen satu sama lain bahkan sedemikian mungkin, tempat akhir seperti Eropa, Amerika atau tengah Atlantik laut. Ini, meskipun bukti sebaliknya sangat besar yang telah berkembang dari dasarnya semua bidang ilmu-ilmu manusia, terutama yang antropologis. Hal ini terutama pada orang-orang yang kita mendasarkan argumen kami dalam mendukung realitas murni sumber peradaban manusia secara tradisional disebut Atlantis atau Eden, dll.

[FOOTNOTE: Kami menekankan, sekali lagi, bahwa teori kami, meskipun dangkal reembling orang-orang dari Theosofis, yang Velikovskians, Kutub-Shiftists dan anak, tidak ada hubungannya dengan mereka, karena mereka semua sangat ilmiah dan didirikan pada kenyataannya, agak dari pada agama atau Tradisi saja. Theosofis berasal kebijaksanaan mereka dari Mme. Blavatsky, seorang wanita Rusia yang, pada tahun 1860 yang pindah ke India, di mana dia mendirikan Masyarakat teosofi, yang memiliki banyak pengikut di kalangan para intelektual waktu. Blavatsky adalah orang yang sangat intelligient, dan segera mengumpulkan massa besar pengetahuan Hindu dan tradisi esoterik lainnya, yang ia diterbitkan dalam buku-buku seperti The Secret Doctrine dan Veil of Isis, yang menjadi sangat populer, bahkan hari ini. Tapi tulisannya tampak sebuah versi tercerna doktrin esoteris agama Buddha, Hindu, dan agama-agama lain dan doktrin Occult, bercampur dengan beberapa pseudo-ilmu yang dia diperoleh dari buku teks geologi waktu, yang akan allprove salah dalam perjalanan waktu.

Pergeseran Kutub adalah bumcombe ilmiah belaka yang memegang tidak ada air. Tidak mungkin pada kedua alasan physicaland geologi, seperti yang kita jelaskan secara rinci elewhere. Ide-ide ini awalnya ppularized oleh Charles Hapgood, dan bertahan di penulis seperti John White dan Graham Hancock. Daripada ilmuwan, penulis ini adalah wartawan, yang spesialisasinya justru render cocok untuk publik apa yang biasanya kebohongan dan propaganda pemerintah. Putih memiliki - karena memang sebagian besar pendukung seperti teori, termasuk Hapgood - publik menarik kembali dari pandangan mantan pada PoleShift, yang henow mengakui sebagai konsep unscienific. Kami berharap Graham Hancock akan segera melakukan hal yang sama, terutama karena ia sekarang menjatuhkan proposalof nya suatu Atlantis Antartika, yang mendukung hipotesis kita sendiri dari Timur Jauh satu.

Velikovsky merupakan karakter yang tidak biasa. Seorang Yahudi Rusia dan emigran ke AS, buku-bukunya menjadi menyenangkan semua orang ingin tahu siapa, di tahun 1950, adalah ketidakpuasan dengan ketidakjelasan Ilmu Akademik. Di antaranya, aku harus dihitung, seperti buku-buku membuka mata saya kepada inkonsistensi teori seperti Geologi uniformitarian Darwin dan ofEvolution teorinya, berdasarkan tepatnya kekeliruan ini. Masalah Velikovsky mengambil peristiwa bencana ia mengusulkan sebagai kebenaran harfiah. Selain itu, sebagai seorang Yahudi ortodoks, Velikovsky juga percaya bahwa tanggal dan peristiwa Alkitab - ridiculously kecil oleh standar geologi - untuk menjadi fakta-fakta aktual yang harus secara implisit diyakini oleh semua. Tentu saja, sebagian besar proposal itu terbukti salah, excpt sejauh Catastrophism tampaknya memang menjadi salah satu fitur penting tidak hanya Evolusi, tetapi juga dari geologi, berbeda dengan apa yang drawin dan Lyell begitu tegas membantah. Tapi buku-bukunya - seperti yang dari Blavatsky dan bahkan Graham Hancock adalah membaca yang baik bahkan hari ini, selama mereka dianggap apa yang mereka benar-benar adalah: menyenangkan Sci Fi, berdasarkan dicerna sakit-pseudo-Ilmu.

]

Itu di Timur, dan seterusnya, bahwa pertanian (beras dan biji-bijian) dan hewan domestikasi diciptakan. Kedua penemuan penting diperbolehkan fiksasi manusia ke tanah, dan kemakmuran yang dihasilkan menyebabkan peradaban dan berdirinya kota pertama. Ini adalah persis fakta ini yang terkait dalam Alkitab, yang atribut dasar dari kota pertama – yang disebut Henok atau Chenok, (“yang Abode dari Pure”, di Dravida) – Kain (Kejadian 4:17). Ini berakhir pada penyelesaian dari waktu yang diberikan adalah apa yang dimaksud dengan Henok jangka hidup dari “tahun 365″.

Nama ini (“Tanah Murni”) dari pertama dari semua kota adalah sama dalam tradisi Hindu (Shveta-Dvipa, Sukhavati, Atala, dll). Bahkan dalam tradisi Amerindian, Yvymaraney “Tanah Murni”, adalah tempat kelahiran legendaris dari Tupi-Guarani Indian Brasil, seperti Aztlan adalah tanah asal suku Aztec kuno dari Meksiko, dan Tollan adalah salah satu Maya di Yucatan. Man – atau, lebih tepatnya, para simians antropoid yang nenek moyang kita – pada kenyataannya muncul di Afrika sekitar 3 juta tahun yang lalu. Tapi anthropoids segera tersebar di seluruh Eurasia dan seterusnya, mencapai Orient Jauh dan Australia, inklusif, sekitar 1 juta tahun yang lalu atau bahkan lebih.

Indonesia, situs eden

Itu di Indonesia dan negeri tetangga bahwa manusia, setelah beremigrasi dari semi-desertic sabana Afrika, ditemukan pertama kondisi iklim yang ideal untuk pengembangan, dan di sanalah ia menemukan pertanian dan peradaban. Semua ini terjadi selama Pleistosen, yang terakhir dari era geologi, yang mengakhiri 11.600 tahun yang lalu kurang. Meskipun panjang menurut ukuran manusia, ini hanyalah sesaat dalam istilah geologi.

Pleistosen – nama yang bahasa Yunani untuk “paling baru” – juga disebut Era Anthropozoic Era atau Kuarter atau, belum, Zaman Es. Selama Pleistosen dan, lebih tepatnya, selama episode glasial yang terjadi pada interval sekitar 20 ribu tahun, permukaan laut sekitar 100-150 meter (330-500 kaki) di bawah nilai sekarang. Dengan ini, jalur pantai besar – yang disebut kontinental Platform (dengan lebar sekitar 200 km = 120 mil) – menjadi terkena, membentuk jembatan tanah yang saling berhubungan banyak pulau dan wilayah.

Yang paling dramatis eksposur tersebut terjadi di wilayah Indonesia, tepatnya tempat di mana manusia pertama kali berkembang. Perluasan yang luas dari Laut Cina Selatan kemudian membentuk sebuah benua besar, memang “lebih besar dari Asia Kecil dan Libya disatukan”. Hal ini, seperti yang akan kita lihat di bawah, tepatnya apa yang Plato menegaskan dalam ceramahnya di Atlantis, the Critias.

Dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, gletser besar yang menutupi seluruh bagian utara Amerika Utara dan Eurasia mencair. Perairan mereka terkuras ke laut, yang tingkat naik perkiraan jumlah sekitar 100-150 meter dikutip di atas. Dengan kenaikan ini, Atlantis tenggelam dan menghilang untuk selamanya, bersama dengan sebagian besar penduduknya, yang kami perkirakan, berdasarkan data Plato, sekitar 20 juta orang, besar untuk zaman yang bersangkutan.

eden adalah sama dengan lemurian atlantis

Lebih tepatnya, ini adalah benua cekung Lemurian Atlantis, yang lebih besar dari dua Atlantises disebutkan oleh Plato. Lemuria adalah padang rumput luas yang disebut orang Yunani Elysian Fields dan yang orang Mesir yang bernama “Bidang Reeds” (Sekhet Aaru) atau, belum, “Tanah Leluhur” (To-wer), Paradise luar negeri di mana mereka sebelumnya tinggal, di Zep Tepi (“Waktu Primordial”). Benua cekung menjadi Tanah, Mati wilayah mengerikan, dilarang di mana pelaut tidak pernah berani untuk pergi, karena itu adalah “Tanah No Return”.

Menariknya cukup nama “Tanah Leluhur” (atau Serendip) justru nama Dravida dari Taprobane (Sumatera), pulau di mana orang Hindu menempatkan surga murni mereka, juga cekung di sebuah bencana. Tempat, suram wabah yang tetap di atas air bernama Sheol (“Hell”) oleh orang-orang Yahudi, dan, di tempat yang terhindar, “Pulau Blest” (Makarion nesos) atau Hades oleh Yunani, Amenti atau Punt oleh Mesir, Mesopotamia Dilmun oleh, Hawaiki oleh orang Polinesia, Svarga oleh Hindu, dan sebagainya.

Bangsa Celtic – yang mungkin adalah legenda ingatan terbaik dari alam emas cekung – disebut Avallon tempat, Emain Abbalach atau, belum, Ynis Wydr (“Pulau kaca”). Mereka juga terkait tempat menakutkan dengan Holy Grail dan kebangkitan pahlawan mereka yang mati, seperti yang kita rinci dalam lainnya, artikel mendatang kita. Dan kami sudah disebutkan di atas Yvymaraney dari Indian tupian Brasil, atau Aztlan atau Aztatlan dari suku Aztec Meksiko, atau Tollan dari Mayas of Yucatan, tanah terendam dari mana orang-orang Indian yang terpaksa melarikan diri, ketika tenggelam dlm , menghilang selamanya.

eksodus mani

Yang terbesar dari semua koloni Lemurian adalah Atlantis, didirikan di India, sudah selama heydays Lemuria, dan yang, pada waktunya, mencapai puncak keagungan manusia. Atlantis dan Lemuria telah makmur untuk era zodiak penuh (2.160 tahun), ketika bencana besar menghancurkan dunia bersama mereka, pada akhir Pleistosen, sekitar 11.600 tahun yang lalu.

Para korban sedikit dari bencana yang tenggelam Lemuria jauh terpaksa mengungsi Paradise mereka hancur, bergerak pertama ke India, tempat Atlantis, yang telah terhindar di utara porsinya, loftier. Tapi bencana global juga menyebabkan akhir Zaman Es Pleistocene, dan mencairnya gletser Himalaya menyebabkan banjir besar dari sungai-sungai di Asia, rendering tidak layak wilayah untuk tempat tinggal manusia. Banjir ini melanda ini sisa Atlantis, sudah sangat hancur oleh bencana asli, kebakaran raksasa dari gunung berapi Indonesia dan tsunami besar disebabkan mereka, maupun oleh wabah yang melanda negara mereka di belakang mereka.

Sekali lagi, ini orang karam itu terpaksa melarikan diri, beremigrasi, sepanjang ribuan tahun berikutnya, ke tempat-tempat terpencil seperti Mesir, Mesopotamia, Palestina, Afrika Utara, Eropa, Asia Utara, Timur Dekat dan bahkan Oseania, dan Amerika. Beberapa datang dengan berjalan kaki, dalam gerombolan besar seperti yang dimiliki Israel eksodus. Lainnya datang dengan kapal, seperti Nuh di Ark nya atau Aeneas dengan armada nya, untuk menemukan peradaban besar dunia kuno.

Peradaban besar yang kita ketahui, di Lembah Indus, di Mesir, di Mesopotamia, Asia Kecil, Yunani, Roma, Meksiko dan bahkan Amerika semua koloni Atlantis yang didirikan oleh korban yang selamat dari bencana yang menghancurkan surga kembar Atlantis dan Lemuria. Ini kolonis, tentu saja, berusaha untuk menciptakan Eden mereka di tanah air baru mereka.

Para pendatang baru bernama masing-masing fitur topografi setelah arketipe dari kediaman murni seperti imigran akan melakukan yang sama saat ini. Itulah alasan mengapa kita terus mencari sisa-sisa Atlantis di mana-mana, dari Brasil dan Amerika Utara ke Spanyol, Crete, dan bahkan Afrika dan Eropa Utara. Semua peradaban kuno berbicara tentang peradaban Heroes seperti Manu, Nuh, Aeneas, para Oannes, Hotu Matua, Quetzalcoatl, Kukulkan, Bochica dan, tentu saja, Atlas dan Hercules, si Kembar mana-mana peradaban yang didirikan di mana-mana.

realitas pahlawan membudayakan

Yang cukup menarik, satu-satunya tempat sejauh tidak diklaim di antara ratusan sitings Atlantis adalah Indonesia. Tentu saja, tidak ada bukti kuat tentang keberadaan Atlantis dan, bahkan lebih, Lemuria, yang pernah ditemukan. Alasan untuk ketidakhadiran ini adalah mudah untuk menjelaskan: para pakar semuanya telah mencari Atlantis di sisi yang salah dari dunia.

Legenda dari semua bangsa menceritakan Heroes peradaban, Malaikat, Dewa, atau bahkan Demons and Monsters yang civilizers mereka dan yang mengajarkan agama, hukum, pertanian, metalurgi dan alfabet. Ini adalah Fallen Angels, semua sama pahlawan terlalu manusia yang jatuh sangat cinta dengan gadis-gadis pribumi yang indah, Daughters of Man (Kej 6). Dewa-dewa jatuh tidak Astronot, atau Sprite, tetapi orang-orang suci yang datang sebagai misionaris dari Atlantis. Bagaimana lagi yang bisa mereka kawin dengan manusia perempuan dan anak-anak berkembang biak?

Yang misterius “Anak-anak Allah” (ben Elohim) dari Kejadian 6 adalah justru orang-orang yang sama diidentifikasi oleh Plato dengan Atlantis. Dosa mereka dengan Putri Men – dan, lebih mungkin, penolakan dan perbudakan keturunan hibrida mereka – menyebabkan air bah. Ini memang Dosa Asal misterius yang mengakibatkan kehancuran Paradise (Atlantis) dan Kejatuhan Manusia. Dosa ini adalah salah satu ritual “dicuci” oleh Pembaptisan, itu sendiri sebuah alegori dari banjir, seperti St Jerome dan lainnya Gereja Leluhur eksplisit mengakui.

Plato mengutip justru penyebab kehancuran Atlantis oleh Tuhan (Zeus) dalam (belum selesai) dialognya tentang Atlantis, the Critias. Dan cerita yang sama, dalam bentuk dialegorikan, juga diberitahu oleh Homer mengenai “Anak-anak Allah” Phaeacian. Hal ini juga tokoh dalam mitos Celtic mengenai Mererid, putri berdosa Raja Gradlon, yang melakukan scabrous menyebabkan tenggelamnya tanah Ys. Jadi, di Amerika (Bochica, dll), dan tempat lain.

Jika kita membaca Alkitab dengan penuh perhatian, kita perhatikan bahwa juga berbicara tentang dua ciptaan, persis seperti Plato juga bercerita tentang dua Atlantises yang berbeda (lih. Kej 1 dan 2). Selain itu, Alkitab juga bercerita tentang dua penghancuran dunia dengan banjir besar. Kedua narasi yang berbeda quaintly bordir pada satu sama lain dalam Kejadian 6, dan terdiri dari Elohist dan rekening Jahvist dari Banjir, yang berhubungan dua peristiwa tampak berbeda.

Alkitab adalah benar setelah semua

Kita melihat, kemudian, bahwa tradisi (atau tradisi) diriwayatkan oleh Plato persis bertepatan dengan pengetahuan Alkitab. Selain itu, seperti yang kita katakan di atas, dua tradisi juga persis setuju dengan peristiwa prasejarah diamati dalam geologi dan catatan arkeologi. Dan, ketika kita menelusuri legenda di seluruh dunia untuk sumber mereka, kita selalu berakhir di India dan Indonesia, dua Atlantises legenda, tidak peduli di mana kita mulai dari.

Sebenarnya, benua tidak tenggelam. Ini adalah laut yang naik, banjir seluruh benua, seperti yang terjadi di Lemurian Atlantis dan, untuk sebagian besar, di Lembah Indus, lokasi Atlantis yang kedua. Relativis akan mengatakan bahwa kedua peristiwa – kenaikan muka laut dan tenggelamnya benua – adalah satu dan hal yang sama, setidaknya dari sudut pandang pengamat. Tapi ahli geologi panas akan membahas masalah ini, dan klaim, karena mereka telah lama dilakukan, bahwa benua cekung sebenarnya adalah sebuah kemustahilan geologi. Ini semua adalah masalah perspektif, dari relativistik ilusi. Tetapi sumber-sumber kuno terbaik – mengatakan, misalnya bahwa megah saga Hindu, Mahabharata – berbicara tentang kenaikan permukaan laut dan bukan dari benua tenggelam.

benua cekung sulit dipahami mengungkapkan

Namun, siapa saja yang memeriksa bagan dari dasar laut di wilayah Indonesia seperti Peta Ice Age of Indonesia ditunjukkan pada Gambar. 1 di bawah ini, mudah akan mengakui bahwa Laut Cina Selatan dikelilingi oleh Indonesia memang membentuk sebuah benua selama glaciation terakhir, yang berakhir beberapa 11.600 tahun yang lalu. Tabel ini jelas menunjukkan benua cekung Lemurian Atlantis di Indonesia, serta strip cekung luas Atlantis India di Delta Indus.

Peta tidak meninggalkan ruang untuk keraguan tentang realitas apa yang kita menegaskan mengenai Lemurian dan Atlantis India, salah satu hampir seluruhnya cekung, dan cekung lainnya untuk extension yang sangat besar. Kami berkomentar bahwa peta ini – berbeda dengan kebanyakan orang lain menyajikan situs yang diusulkan untuk Atlantis dan / atau Lemuria – adalah murni ilmiah, bukan penemuan kita atau orang lain. Hal ini didasarkan pada rekonstruksi geofisika rinci seafloors di wilayah yang bersangkutan, dan menggambarkan bidang kedalaman di bawah 100 meter, yang jelas terpapar selama Zaman Es, ketika permukaan laut turun dengan jumlah itu dan bahkan lebih.

Bahkan, beberapa sangat ilmiah, peta serupa ada, dan dapat dilihat di tempat lain, inklusif di Internet. Salah satu peta ini, diterbitkan dalam Majalah National Geographic (vol. 174, No 4, Oktober 1988, pg. 446-7) dan direproduksi, untuk perbandingan, pada Gambar. 2 di bawah ini. Ini menunjukkan dunia seperti itu sekitar 18.000 tahun yang lalu, di puncak glaciation terakhir dari Zaman Es Pleistocene. Seperti dapat dilihat, peta ini sesuai cukup erat dengan kita, ditunjukkan pada Gambar. 1.

Secara khusus, harap perhatikan sepotong besar tanah, seluas benua, ke selatan Asia Tenggara, dan yang menjadi cekung ketika permukaan laut naik, pada akhir Pleistocene. Sepotong yang cukup besar lahan di Delta Indus, lokasi Atlantis yang kedua, juga menghilang juga, pada kesempatan itu. Tidak ada daerah lain di dunia menampilkan acara serupa, termasuk Amerika (tidak ditampilkan). Kesimpulannya adalah bahwa Atlantis, jika Plato sebenarnya berbicara jujur, hanya bisa terletak dalam wilayah dunia.

Karena kedua peta di atas menunjukkan, perpanjangan besar – ukuran benua – berkepanjangan Asia Tenggara semua jalan ke Australia. Ini tanah benua berukuran memang “lebih besar dari Asia [Kecil] dan Libya [Afrika Utara] disatukan”, persis seperti Plato menegaskan. Hal ini terlihat sudah sekitar dua atau tiga kali lebih besar dari benua berukuran India. Itu juga jauh lebih besar dari Australia, yang ditampilkan berlebihan karena kekhasan proyeksi digunakan.

Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaya yang kita amati saat ini adalah peninggalan dari Lemurian Atlantis unsunken, pegunungan vulkanik tinggi yang menjadi pulau-pulau vulkanik daerah ini, situs sejati surga dalam semua tradisi kuno. Bagian cekung ekstensi benua sekarang membentuk, dasar berlumpur dangkal dari Laut Cina Selatan. Hal ini dikelilingi oleh Indonesia dan membentuk batas Hindia dan Samudra Pasifik.

Lalu, seperti sekarang, Indonesia membentuk membagi dari Baru dan Dunia Kuno; apa yang dahulu disebut Ultima Thule (“Ultimate Divide”). Thule juga berhubungan dengan apa yang orang tua kami bernama Pilar Hercules, yang, menurut Plato, yang ditempatkan “hanya di depan Atlantis” (hyper sepuluh Heraklei Nyssai).

Pilar Hercules juga perbatasan dilewati antara Lama dan Dunia Baru, juga disebut Orient dan Barat. Kedua ini dipisahkan oleh busur pulau vulkanik di Indonesia, benar-benar batas dari Pelat tektonik yang membentuk Kuno dan Dunia Baru. Ini hambatan untuk navigasi, di wilayah Atlantis juga tubi disebutkan dalam Plato dan sumber-sumber kuno lainnya di Atlantis.

keretakan besar dan mega khasma dari Hesiod

Keretakan besar yang datang untuk memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera, yang disebabkan oleh penurunan dari gunung berapi Krakatau berubah menjadi kaldera bawah laut raksasa, yang sekarang membentuk Selat Sunda. Ini keretakan besar ini sangat terkenal dari dahulu. Hesiod menyebutnya Khasma Mega (“Great Rift”), sebuah designative ia belajar dari Hindu. Ini orang menyebutnya (dalam bahasa Sansekerta) dengan nama seperti Abhvan (“Besar Abyss”), Kalamukha (“Black Hole”), Aurva (“Pit Api”) Vadava-mukha (“Mare Submarine Api”), dan sebagainya. Ini Abyss besar juga yang sama bahwa orang Mesir disebut Nun, dan yang bernama Mesopotamia Apzu (“Abyss”).

Hesiod dan beberapa otoritas kuno lainnya tempat ini Khaos (“Divide”) atau Khasma Mega (“Giant Abyss”) di membagi dunia, di pintu masuk sangat ke neraka (Tartarus). Hesiod juga tempat Atlas dan Pilar-Nya (Matius Atlas) di tempat ini suram di mana navigator kuno seperti Ulysses dan Argonauts bertemu azab mereka. Seperti yang kita katakan di atas, ini Black Hole menakutkan – pola dasar dari semua imajinasi sehingga Man menghantui itu – memang kaldera berapi-api Krakatau, siap untuk menghidupkan kembali di azab, setidaknya dalam tradisi Hindu di Vadava-mukha.

apa yang terjadi selama Pleistocene?

Mari kita simpulkan apa yang terjadi selama Zaman Es Pleistocene, untuk signifikansi sejati tampaknya telah lolos dari pemberitahuan dari semua Atlantologists sejauh ini.

Ini adalah bagaimana Zaman Es dimulai. Dikonversi ke awan oleh matahari, air laut yang dibawa ke benua oleh angin, di mana ia mengalir turun sebagai hujan es baik, hujan atau salju. Jika kondisi benar, karena mereka kemudian, air ini downfalling masih dipertahankan dalam gletser yang akhirnya menutupi daerah beriklim sedang dengan kain kafan es yang merupakan satu atau dua mil tebal. Akibatnya permukaan laut turun sebesar 100-150 meter atau bahkan lebih, mengekspos bagian bawah dangkal laut.

Itulah yang terjadi dari Laut Cina Selatan, yang jarang melebihi kedalaman 60 meter atau lebih, seperti yang kami tunjukkan di Peta Gambar. 1. Ketika Zaman Es berakhir, proses ini dikembalikan. Gletser mencair, dan air lelehan mereka dengan cepat mengalir ke laut. Karena itu, bagian bawah yang sebelumnya terungkap sebagai lahan kering menjadi tenggelam sekali lagi.

Seperti yang kita lihat, dunia bekerja sebagai semacam flip-flop atau ayunan, selamanya berosilasi antara ekstrem dingin dan panas. Yang cukup menarik, itu adalah Hidup itu sendiri yang menyeimbangkan keseimbangan, memperkenalkan umpan balik negatif yang melawan kecenderungan dunia untuk membekukan atau mendesis. Misalnya, jika karbon dioksida (CO2) meningkat di atmosfer, temperatur cenderung naik dengan Efek Hothouse disebut. Inilah apa yang kita amati dalam mendesis Venus, suasana yang hampir murni CO2. Dalam dingin sekali Mars, yang atmosfer (dan Kehidupan) hampir semua hilang dalam bencana yang luar biasa – mungkin disebabkan oleh jatuhnya meteorit ukuran planetoidal – ayunan berlawanan terjadi.

Dimanapun Hidup ada, seperti pada bumi, peningkatan isi CO2 dari atmosfer juga menghasilkan fotosintesis meningkat. Tanaman tumbuh lebih mewah, memperbaiki kelebihan karbon dioksida dalam diri mereka sendiri, dan mengurangi situasi. Proses sebaliknya terjadi jika konten CO2 dari atmosfer berkurang untuk beberapa alasan. Fotosintesis berkurang dan akibatnya materi tanaman – terutama plankton di laut, daripada hutan tropis – menurun, CO2 membebaskan. Hal ini meningkatkan konten atmosfer, cenderung meningkatkan suhu bumi kembali ke nilai normal.

Namun, kompensasi ini hanya bekerja dalam batas-batas yang kaku, dan setiap gangguan yang berlebihan dapat memicu Ice Age atau Zaman Hot. Seperti dengan sandal jepit dan keseimbangan, transisi ini diperkuat oleh umpan balik yang positif, dan dengan cepat mengarah ke situasi yang ekstrim yang, sekali lagi, stabil dan permanen sampai dipicu kembali lagi. Misalnya jika laut pemanasan, kelarutan CO2 berkurang, dan meningkatkan atmosfer konten, cenderung untuk lebih meningkatkan suhu bumi, dan sebaliknya.

Selain itu, sebuah lapisan es secara efektif mencerminkan kembali sinar matahari ke luar angkasa, mengurangi jumlah panas matahari diserap oleh bumi. Suhunya akibatnya tetes, dan gletser lebih meningkatkan, sampai mereka mencakup semua daerah beriklim bumi. Dengan tidak adanya Hidup, kita memiliki dua ekstrem instanced oleh dua tetangga kami planet, Venus dan Mars. Seperti yang kita katakan di atas, Venus adalah sepanas neraka, sedangkan Mars benar-benar beku, seolah-olah untuk jelas mencontohkan kepada kita semua dua ekstrem dari kondisi tak bernyawa.

penyebab zaman es

Penyebab Zaman Es dan kemajuan periodik dan mundur dari gletser kontinental tidak cukup dikenal. Tapi, untuk percaya mitos, akhir Pleistocene Ice Age adalah akibat ledakan dahsyat Gunung. Atlas, satu yang mengusap Atlantises kembar keluar dari peta.

Gunung Atlas – “Tiang Surga” yang dihiasi Lemurian Atlantis – adalah puncak gunung berapi besar di wilayah yang sekarang sesuai dengan busur pulau Indonesia. Untuk lebih tepatnya, gunung berapi ini adalah Krakatau mengerikan, bahkan saat ini masih hidup dan sangat aktif, meskipun ledakan monumental di Atlantis kali. Setelah ledakan kolosal, gunung berapi Krakatau tenggelam dlm diri, menjadi kaldera raksasa yang sekarang membentuk Selat Sunda ini antara Jawa dan Sumatera.

Ini kaldera raksasa – penuh 150 km di seluruh – adalah “Submarine Mare Api” (Vadava-mukha) yang kita berkomentar atas. Ledakan raksasa Gunung Suci dibuktikan tidak hanya oleh mitos di seluruh dunia yang menceritakan akhir Paradise (Atlantis). Cataclysms serupa di wilayah terpencil di dunia juga bersaksi oleh sabuk tektite dan lapisan abu vulkanik yang menutupi sebagian besar Samudra Hindia Selatan, Australia, Indonesia dan Tenggara Asia.1

Abu dan debu dibebaskan oleh ledakan raksasa yang terbawa oleh angin, dan gletser menutupi Utara Asia dan Amerika Utara dengan selubung gelap materi karbonisasi. Hasilnya adalah peningkatan penyerapan sinar matahari dan pencairan cepat pergi dari gletser yang menutupi benua di luar Kawasan Tropis.

termal pelarian dan kepunahan kuaterner

Proses pencairan gletser jauh dari seragam, sebagai ahli geologi banyak sekolah Darwin cenderung untuk berpikir. Air lelehan dari gletser dengan cepat mengalir ke laut, menciptakan tekanan besar antara dasar laut kelebihan beban dan benua diringankan. Kerak bumi retak dan dibelah di banyak tempat, yang berasal gunung berapi, gempa bumi dan tsunami dari proporsi belum pernah terjadi sebelumnya. Dan proses kekerasan terus, didorong oleh momentum sendiri, sampai akhirnya lengkap dan bumi telah keluar dari Ice Age. Dalam acara ini mengerikan – satu sama bahwa mitos menyebut air bah – sekitar 70% dari spesies mamalia besar punah.

Ini mandiri, proses peningkatan degeneratively adalah apa fisikawan sebut “umpan balik positif”, dan identik dengan salah satu yang menyebabkan transisi elektronik sandal jepit di komputer elektronik dan semacamnya. Hal ini juga sesuai dengan proses lain fisik yang disebut “pelarian termal”, yang terjadi, misalnya, pada skala global dalam Efek rumah kaca. Peningkatan suhu bumi cenderung untuk membebaskan (gas karbon) CO2 terlarut dalam air laut ke atmosfer, karena kelarutannya menurun dengan suhu.

The atmosfer ekstra CO2 lebih cenderung untuk meningkatkan pemanasan global, jumlah lanjut membebaskan CO2, dan seterusnya sampai semua itu dibebaskan ke atmosfer, dan bumi menjadi panas. Ini mungkin apa yang terjadi pada Venus mendesis, mungkin miliaran tahun yang lalu. Dan mungkin juga menjadi kasus yang juga memiliki Kehidupan Venus, sebagai Mars rupanya juga, karena kita mulai belajar.

Ahli geologi menyebut kematian luas yang terjadi pada akhir Pleistocene dengan nama Kepunahan Kuarter. Tapi mereka digagalkan di menjelaskan tujuan mereka, dan tidak ada harfiah puluhan teori-teori ilmiah Perjanjian diusulkan untuk menjelaskan penyebab Zaman Es telah consensualy diterima oleh komunitas ilmiah. Di antara spesies punah kita memiliki hewan megah beberapa: mammoth, mastodon, harimau bergigi pedang, beruang gua, sloths raksasa, puluhan spesies camelids, cervids, cavalids dan, sangat mungkin, Neandertal dan Cro- Magnon pria, yang menjadi punah pada sekitar tanggal ini untuk beberapa alasan yang tidak dijelaskan yang hanya dapat telah dikaitkan dengan yang satu ini.

Tidak, mitos-mitos kuno sekali tidak melebih-lebihkan tingkat universal dan kekerasan dari bencana banjir. Para kepunahan massal di seluruh dunia akhir Kuarter (Zaman Es Pleistocene) membuktikan, paling tegas, bahwa kebrutalan bencana itu benar-benar Velikovskian dalam batas, jika tidak di alam.

Dan contoh kedua Mars dan Venus adalah saksi Celestial apa mungkin memang terjadi pada bumi jika kita bertahan dalam menyiksanya cara kita saat ini lakukan. Apakah kedua planet Dua Saksi disebutkan dalam Kitab Wahyu (11:8), “mayat mereka terkena di jalan-jalan Kota Besar (langit?) Untuk semua untuk melihat dan mengagumi”? Saya tidak tahu, tapi aku takut mereka juga bisa begitu. Apakah ini tidak saksi dari kematian permanen pada skala planet mungkin memang hal yang paling menakutkan di seluruh langit?

runtuhnya gunung suci osiris

Gunung Atlas adalah Gunung Suci yang sama surga diwakili oleh Piramida Besar. Osiris mati, reposing dalam Gunung Suci, mewakili Atlantis mati atau, tepatnya, yang mati Atlantis, dikuburkan dan dimakamkan oleh ledakan raksasa Gunung Suci Atlas. Gunung Atlas adalah sama dengan Meru Gunung Hindu, gunung berbentuk piramida yang ada menjabat sebagai dukungan langit itu.

Memang, kata Mesir untuk piramida, M’R yang paling mungkin dibaca Meru seperti dalam nama Hindu gunung disimulasikan oleh monumen. Orang-orang Mesir kuno tidak menguraikan vokal dalam hieroglif mereka, sehingga pembacaan di atas mungkin sesuai dengan yang sebenarnya Mt. Meru, Gunung meledak surga.

Dalam tradisi Hindu, Mt. Meru menjabat sebagai Stambha, Tiang Surga. Mt. Meru (atau Kailasa = “Tengkorak” = Kalvari “) juga menjabat sebagai dukungan dari Pohon Kosmis dimana Cosmic Man (Purusha) disalibkan, seperti Kristus di kayu salib Mt.. Meru juga Gunung Suci surga, tak henti-hentinya digambarkan di India selama ledakan, dalam mandala yang indah seperti Shri Yantra. By the way, Golden Lotus sering ditampilkan dengan mereka menggambarkan “jamur atom” dari ledakan kosmik, seperti yang kita berdebat secara rinci dalam pekerjaan kita yang berjudul “The Secret of the Golden Flower “.

Sebagai akibat dari ledakan raksasa, Mt. Meru (atau Atlas), voided dari magma nya, roboh seperti semacam balon bocor. Puncak yang sangat besar tenggelam dlm laut, berubah menjadi kaldera raksasa. Penelitian kami ke dalam legenda dunia kuno telah menunjukkan bahwa gunung berapi ini memang Krakatau, yang sama yang masih castigates daerah setiap kali meletus eksplosif lagi, seperti yang terjadi pada tahun 1883 dan kesempatan lain.

arti dari pengebirian primordial

Krakatau sekarang menjadi gunung api bawah laut terletak di dalam kaldera raksasa yang sekarang membentuk Selat Sunda yang memisahkan Sumatera dari Jawa. Dalam mitos Hindu, ledakan dan nasib berikutnya yang dialegorikan sebagai Pengebirian Primordial yang ternyata Phallus Cosmic (Lingga) ke dalam Yoni Cosmic (atau Vulva). Dan bumi Yoni adalah sama dengan Mega Khasma dari Hesiod, disebutkan lebih lanjut di atas.

Kita melihat bagaimana tradisi tampaknya masuk akal dari dahulu memang masuk akal jauh lebih daripada upaya mentah pada penjelasan oleh para ahli modern segala macam. Hal ini juga tepat untuk ini fakta yang merujuk legenda Atlas, Tiang Surga. Tidak dapat menanggung beban dari kelebihan penduduk bumi dengan dewa, Atlas runtuh, dan biarkan fajar jatuh langit di atas bumi, menghancurkan itu.

Nama Atlas memang berasal dari makna TLA Yunani radix “menanggung”, didahului oleh affix negatif, yang berarti “tidak”. Oleh karena itu, nama Atlas secara harfiah berarti “yang tidak dapat menanggung [langit]“. Itulah alasan mengapa Atlas (dan Titans lainnya seperti dirinya) sering digambarkan dengan lemah, kaki serpentine. Runtuhnya langit, tentu saja, sebuah alegori cerdas jatuhnya debu vulkanik dan puing-puing dari ledakan jauh dari Mt. Atlas. Dalam mitos Hindu, satu lapisan mengubur satu mantan, sehingga menimbulkan langit yang baru dan bumi yang baru, sama seperti kita baca dalam kitab Wahyu.

atlantis dan meningkatnya phoenix

Di atas adalah, tentu saja, persis pesan Wahyu St Yohanes (21:1) mengenai Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah Atlantis, terlahir kembali dari abu nya, sebagai semacam Phoenix, burung yang melambangkan surga dalam mitos Yunani. Mitos-mitos itu memang disalin dari Mesir yang, pada gilirannya, cribbed mereka dari India. India dan, lebih tepatnya, Indonesia, adalah tanah yang benar dari Phoenix, seperti relatif mudah untuk menunjukkan, karena dari sana yang datang nama burung Benu orang Mesir dan bahwa dari Phoenix dari Yunani.

Ini burung mistik disebut Vena di Rig Veda. Jadi, jika memang melambangkan Phoenix Atlantis-Paradise resurging dari abu sendiri, karena kami percaya hal itu terjadi, bisa ada sedikit keraguan bahwa legenda adalah awalnya Veda, dan berasal dari Hindia. Nama berarti apa-apa yang masuk akal dalam baik Mesir atau Yunani. Tapi di lidah suci India itu berarti gagasan Eros (Cinta), dan, lebih tepatnya, Matahari Keadilan yang melambangkan Atlantis naik dari perairan jurang primordial. Mitos ini merupakan hakekat dari salah satu dari Yerusalem Surgawi, serta, katakanlah, orang-orang dari Cosmogonies gaib, orang-orang Mesir, dan orang-orang yang paling bangsa kuno lainnya.

Mesir dan asal legenda atlantis

Plato mengakui bahwa dia mempelajari legenda Atlantis dari Solon yang, pada gilirannya, mendapatkannya dari Mesir. Tetapi mereka, pada gilirannya, belajar itu dari Hindu dari Punt (Indonesia). Punt adalah Tanah Leluhur (To-wer), Pulau Api dari mana orang Mesir awalnya datang, di fajar kali, diusir oleh bencana yang diratakan tanah mereka. Dari sana juga datang Arya, orang Ibrani dan Fenisia, serta negara-negara lain yang mendirikan peradaban megah dari zaman dahulu.

Ini adalah dari Atlantis Lemurian primordial yang berasal semua mitos dan tradisi keagamaan, yang sangat yang memungkinkan pendakian Manusia atas binatang di ladang. Dari Atlantis memperoleh semua ilmu pengetahuan dan teknologi kami: pertanian, memelihara ternak, alfabet, metalurgi, astronomi, musik, agama, dan sebagainya. Penemuan ini sangat pintar dan sangat canggih yang mereka tampaknya sebagai alam sebagai udara yang kita napas dan dewa kita sembah. Tapi mereka semua penemuan yang sangat canggih yang datang kepada kita dari fajar kali, dari Atlantises kembar kita benar-benar lupa.

Hal ini di India dan di Indonesia, yang, bahkan sampai hari ini, kami menemukan rahasia Atlantis dan Lemuria tersembunyi di balik tabir tebal mitos dan alegori. Peristiwa penting yang menyamar dalam Hindu dan tradisi keagamaan Budha, atau dikatakan sebagai kisah-kisah menawan seperti yang dari Ramayana dan Mahaharata. Kesalahan yang menyebabkan orang dahulu, bersama dengan peneliti modern, menjadi percaya bahwa Atlantis terletak di Samudera Atlantik mudah dipahami sekarang bahwa kita tahu keberadaan sebenarnya dari benua yang tenggelam. Ketika manusia pindah dari Indonesia ke wilayah Eropa dan Timur Dekat, “Occidental Samudera” dari Hindu menjadi Samudra Oriental, untuk itu kemudian berbaring ke arah timur.

The (Hindu) mitos yang menceritakan tenggelamnya Atlantis di Samudera Occidental menjadi diartikan sebagai mengacu pada Samudera Atlantik, Barat dalam hal Eropa, tempat tinggal baru mereka. The Hindu disebut benua cekung dengan nama Atala (atau Atalas) nama uncannily mirip dengan Atlas dan Atlantis (oleh Menambahkan akhiran dari tis atau tiv = “gunung”, “pulau”, di Dravida, dan diucapkan “Tiw”). Ini adalah dari dasar ini bahwa nama-nama seperti bahwa dari Keftiu misterius dari Mesir, “Kepulauan di Tengah Samudera (” Green Besar “)” akhirnya datang (Keftiu = Kap-tiv = “ibukota pulau” atau ” Skull Island “=” Calvary “di Dravida, bahasa murni Indonesia). Tapi ini adalah sebuah cerita panjang yang kita katakan di tempat lain, menyajikan bukti rinci untuk ini tuduhan aneh dari kita.

pembalikan dari lautan dan arah mata angin

Ini adalah untuk ini “pembalikan” dari Arah Kardinal hanya disebutkan bahwa Plato dan Herodotus membuat referensi, bersama dengan otoritas kuno lainnya. Yang cukup menarik, bahkan Amerindian – yang datang, setidaknya sebagian, dari Indonesia ke Amerika Selatan melalui Samudera Pasifik didorong oleh bencana alam Atlantis – sering membingungkan arah tanah air purba mereka, yang mereka kadang-kadang menempatkan di timur, kadang-kadang di barat. Tapi, anehnya, mereka tidak pernah menempatkan ke arah utara, sebagaimana mestinya, jika mereka datang melalui Selat Bering.

Orang Yunani kuno berusaha untuk memperbaiki mitos panggilan mereka, dengan nama “Atlantic”, seluruh samudra yang mengelilingi Eurasia dan Afrika. Tapi hasilnya bahkan lebih buruk dari sebelumnya dan kebingungan hanya tumbuh. Herodotus digunakan untuk menertawakan ini upaya konyol oleh ahli geografi dari waktunya (Hist. 2:28). Aristoteles, dalam bukunya De Coelo, juga sangat spesifik pada kenyataan bahwa nama “Samudera Atlantik” – yaitu, “Samudra Atlantis” – adalah seluruh lautan, melingkar bumi meliputi.

Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa Atlantis sah dapat dilokalisasi baik di laut kita saat memanggil dengan nama itu, atau, bahkan lebih mungkin, di laut di mana orang dahulu menempatkan legenda mereka dan mereka navigations, Samudera Hindia. Laut ini mereka bernama Erythraean, Atlantik, dan seterusnya, nama-nama yang memang terkait dengan Atlantis, “tanah The Reds”, Phoenicia primordial atau erythraea, yang namanya berarti “yang merah”.

Ini barangkali harus ditekankan bahwa itu adalah nama dari Samudra Atlantik (atau “Lautan Atlantis”) yang berasal dari yang Atlantis, dan bukan sebaliknya. Dan nama yang jauh mendahului Plato, yang disebutkan, f. i, oleh Herodotus, yang menulis History sepenuhnya abad sebelum Plato menulis Critias.. Selain itu, sebagai Herodotus menjelaskan, nama “Samudera Atlantik” awalnya diterapkan ke Samudera Hindia, daripada badan air sekarang dinamakan demikian. Jadi, itu adalah di sisi dunia, dan bukan pada kita bahwa kita harus berharap untuk menemukan Atlantis.

atlas, hercules, atlantis, dan jadwal dari para pahlawan

Mitos Yunani sering mewujudkan kebingungan timur dan barat yang kita hanya menunjukkan. Para perjalanan pahlawan Yunani seperti Hercules, Jason, Ulysses dan Argonauts semua tidak masuk akal bila ditempatkan di Mediterania atau bahkan di Samudra Atlantik. Tapi mereka semua membuat banyak pengertian geografis dan mitos jika kita menempatkan mereka di Samudra Hindia, sebagaimana kita seharusnya. Dan itu memang apa yang kita lakukan, dalam karya-karya yang lebih khusus lain kita tentang hal ini menarik.

Demikian juga, Atlas Titan dan gunung, Mt. Atlas, ditempatkan di mana-mana, dari Hesperia (Spanyol), burung kenari dan Morroco ke Bosporus dan Timur Jauh, pada batas-batas Hades (Neraka). Hasilnya adalah profesi Atlantises dan Pilar Atlas (atau Hercules) yang tidak membuat al akal semua. Memang, dua pahlawan yang dipersonifikasikan Pilar Dunia mewakili dua Atlantises kita bahas lebih lanjut di atas. Mereka dipersonifikasikan sebagai Atlas dan Hercules, si Kembar purba yang kita jumpai di semua Cosmogonies.

Dalam dialog Plato mengenai Atlantis (Critias dan Timaeus), Hercules disebut Gadeiros atau Eumelos, nama-nama yang sesuai dengan sesuatu seperti “Cowboy” atau, lebih “Fencer Sapi”. Nama ini merupakan terjemahan harfiah dari yang dari Setubandha, sebutan Sansekerta dari Indonesia. Nama ini disebabkan oleh fakta bahwa Indonesia memang “pagar keluar” lautan, membagi Pasifik dari Samudera Hindia.

yang ultima thule, si kembar, dan perang hari kiamat

Indonesia adalah, seperti yang kita katakan di atas, Thule Ultima (atau “Batas Ultimate”) dari nenek moyang, perbatasan terakhir yang tidak boleh dilintasi oleh navigator. Ada meletakkan Pilar Hercules dan Atlas, dua Twins primordial. Dalam kedok lain, dua sesuai dengan si kembar dari Gemini (Castor dan Pollux), langsung berasal dari si Kembar Ashvin orang Hindu. Di Mesir mereka berhubungan dengan Seth dan Osiris, dan diperingati oleh dua obelisk diposting di pintu masuk kuil-kuil Mesir.

Hercules adalah, tentu saja, dewa Fenisia (Baal Melkart), pada gilirannya berasal dari Bala atau Bala-Rama (“Rama Kuat”), saudara kembar Krishna. Bala berarti “Kuat” atau “Kekuatan” dalam bahasa Sansekerta, yang disebut sama (Bias = “Kekuatan”) dalam bahasa Yunani dan lainnya. Krishna adalah Pilar Dunia, jelas personifikasi Atlantis.

Lebih tepatnya, si Kembar mempersonifikasikan dua balapan dari pirang (Aryo-Semit) dan brunets atau “merah” (Dravidas), ditakdirkan untuk melawan dimanapun mereka bertemu. Kedua warna ini berasal dari Eden (Lemuria), surga primordial di mana kemanusiaan awalnya muncul. Osiris, dewa Mesir, juga memainkan peran Pilar Cosmic (Djed), peran ia berbagi dengan Seth, kembar dan ganda. Tapi ini simbolisme mitos pada akhirnya berasal dari bahwa dari Siwa sebagai Sthanu, yang “Pilar Dunia” dan bahwa Shesha (atau Vritra), Cosmic Serpent yang merupakan pola dasar dari Seth-Typhon.

pertempuran dari anak-anak terang dan anak-anak kegelapan

Si Kembar – seperti Deva dan Asura orang Hindu dan Anak-anak Cahaya dan Anak-anak Kegelapan dari Esseni – yang selalu personifikasi dari dua ras yang sengketa dunia hegemoni sejak fajar kali. Itu perang mereka, menurut Plato – yang menyebut mereka “Yunani” dan Atlantis – yang menyebabkan kehancuran Atlantis.

Tidak ada alasan untuk meragukan bahwa filsuf besar memang transmisi tradisi kuno setia. Sebab, kita mulai belajar lagi dari awal bahwa perang global yang memang bisa menyebabkan akhir dunia. Pada kenyataannya, itu adalah perang tanpa akhir yang sama yang ancaman kita sekarang seperti yang terjadi pada awal kali. Ini kenyataan yang menakutkan ini diceritakan dalam Ramayana, Mahabharata dan di dalam Iliad, belum lagi mitos dan tradisi lainnya.

Namun perang Atlantis juga Perang Armageddon dikisahkan dalam Kitab Wahyu. Perang ini adalah kenyataan pengulangan atau replika dari pertempuran, di seluruh dunia primordial antara Tuhan dan Setan. Makhluk-makhluk perkasa adalah sama dengan apa yang disebut Titans (atau Giants) di Yunani. Perang mereka adalah, seperti Plato dan para komentatornya menjelaskan secara rinci, sama dengan salah satu dari Atlantis.

Armageddon berarti (dalam bahasa Ibrani) sama dengan Shambhalla (dalam bahasa Sansekerta), “Dataran Gathering”. Ada tentara dunia akan berkumpul, di akhir zaman, untuk “perang yang mengakhiri semua perang”, karena itu akan menutup Kali Yuga. Perspektif memang tampaknya menakutkan nyata, tidak memang? Dongeng atau Realita? Agama atau Sumpah serapah? Ilmu atau Nonsense bertakhyul? Kita cenderung percaya bahwa nenek moyang kita berbicara dengan sungguh-sungguh, dan bahwa perang Armaggedon dan akhir dunia cepat menjadi segala kemungkinan terlalu nyata.

adalah mars dan venus contoh surgawi?

Kami tidak ingin terlihat alarmists, sebagai pesan kami memang salah satu harapan dan keselamatan, dan bukan dari “berdebar Bible”. Penemuan baru-baru sisa-sisa hidup punah di Mars membawa pelajaran kenangan yang layak detail. Bumi telah, di masa lalu, korban bencana yang tak terhitung jumlahnya yang hampir dihapuskan Hidup sama sekali. Ini cataclysms adalah karena penyebab yang berbeda seperti jatuh dan komet asteroidal atau cataclysms vulkanik membawa atau menonaktifkan Zaman Es. Tidak mustahil, perang seperti Perang Atlantis dan Pertempuran para Dewa memang bisa terjadi di masa lalu yang jauh, benar-benar lupa bahwa hidup dalam mitos dan tradisi suci dari mana-mana.

Mungkin perang kami hanya melanjutkan ini dan lain-lain yang mungkin terjadi di Mars dan Venus, menghancurkan Kehidupan di sana, jika tidak dalam Solar Systems lain juga. Bahkan mungkin terjadi bahwa Bangs Besar dan Creations memang proses siklik yang muncul kembali secara periodik, seperti halnya tradisi Hindu pada Eras Siklus menegaskan secara rinci. Kepunahan dinosaurus, dan asal-usul Bulan – ditarik keluar dari Bumi dengan dampak planetoidal – adalah contoh dari cataclysms serius tersebut. Ribuan kawah raksasa – besar seperti yang di Bulan, meskipun hampir dihapuskan oleh erosi – masih diamati di bumi, sebagai ilmuwan mulai menemukan. Ratusan kali di masa lalu kami telah memiliki kepunahan besar Kehidupan di bumi.

Banyak kali di dunia masa lalu kami hampir menjadi sebagai “kosong dan gelap dan tanpa bentuk” pada Penciptaan, ketika Tuhan membentuk kembali bumi untuk terakhir kalinya. The uniformitarianisme Darwin dan Lyell tidak lebih dari keyakinan naif dalam doktrin Panglossian bahwa “segala sesuatu hanya terjadi menjadi lebih baik, yang terbaik dari semua kemungkinan dunia”.

Fosil dan kepunahan di sini untuk membuktikan, seperti melakukan Geologi dan ilmu-ilmu lainnya, yang Catastrophism adalah fitur Alam sebanyak, dan mungkin bahkan lebih, daripada fenomena uniformitarian. Ribuan Apollo dan Amor objek segerombolan melintasi orbit bumi, siap menyerang kita pada saat itu juga dengan kekuatan satu juta megaton dan lebih. Gagasan bahwa Tuhan nikmat manusia “atas binatang di ladang” hanya sendiri naif kita, egois gagasan tentang apa yang Allah akan terlihat seperti. Lebih mungkin, Ia menganggap Hidup semua sebagai sakral, sebagai hasil karya-Nya sendiri, jika Dia ada sama sekali. Itulah yang disangkal Alam menunjukkan dalam praktek sepanjang waktu.

Mars, dengan residu yang mati Hidup, dengan lautan yang kosong dan kering, dengan badai yang mengerikan debu menyapu kekosongan tak berujung dan kehancuran, di sini untuk membuktikan kepada semua bahwa Tuhan – atau, seperti beberapa Bumi kehendak, Alam atau Ibu – kadang kehilangan / nya amarahnya dan memadamkan Hidup sama sekali. Ini hampir terjadi di Banjir, sebagai mitos memberitahu kami. The tumbal Atlantis – mungkin karena mereka berdosa, mungkin karena mereka berperang – hampir mengambil sisa dari kita bersama. Venus adalah contoh lain, secara terbalik, bahwa planet-planet memang bisa mati dan menjadi seperti steril Bulan. Dan mungkin, bumi itu sendiri hanya “me-reset kembali ke nol” sekitar empat miliar tahun lalu, saat Bulan ditarik keluar dari itu oleh dampak meteor raksasa ukuran planetoidal.

atlantis dan ilusi uniformitarianisme Darwin

Seperti kita hanya berkata, Teori Evolusi Darwin uniformitarian hanya sebuah ilusi mati-keras ilmuwan. Apa dunia menyajikan kita sehari-hari adalah rangkaian tanpa akhir cataclysms semakin besar, mulai dari atom smashing ke Big Bang. Kami baru saja menonton sebuah komet memukul Jupiter dan membuka luka pada planet yang sama besarnya dengan seluruh bumi. Mars menunjukkan semua tanda-tanda yang telah terkena tubuh berukuran planetoidal, yang membuka sebuah kawah besar di satu sisi dan mendorong Olympus Mons di satu berlawanan. Mungkin itu adalah bencana ini yang padam Kehidupan di Planet Merah. Venus juga menyajikan sisa-sisa bencana serupa. Mungkin kita hanya terdampar di bumi, ditakdirkan untuk menjadi punah bila waktu kita diberikan berakhir yang tahu kapan?

Hidup adalah ilusi, karena semua hal, seperti Hindu mengajarkan kita. Menurut mereka, bahkan para dewa akhirnya mati, dan digantikan oleh yang lebih baik, bentuk-bentuk yang saleh lebih berkembang. Ilusi juga teori suprematist yang menegaskan bahwa Peradaban pertama muncul di Atlantis Occidental yang pernah ada, keluar dari saham Europoid. Tapi Peradaban berkembang pada saat seluruh Eropa hampir sepenuhnya ditutupi oleh gletser tebal mil yang diberikan hidup sangat sedikit dan kurang.

Plato Atlantis adalah, sebaliknya, digambarkan sebagai surga tropis mewah, dihiasi dengan logam, kuda, gajah, kelapa, nanas, parfum, kayu aromatik dan fitur lainnya yang merupakan eksklusivitas dari India dan Indonesia di dunia kuno. Apakah filsuf besar bermimpi, atau ia memang mendasarkan dirinya pada Kitab Suci sekarang hilang dalam api unggun dari Inkuisisi Kudus?

The Atlantis Atlantik adalah ilusi juga, sama seperti adalah Kreta, Afrika, Amerika, Eropa Utara dan orang-orang Laut Hitam. The Atlantis yang benar, pola dasar dari semua Atlantises lainnya adalah Indonesia, atau lebih tepatnya, benua cekung yang luas dikelilingi oleh busur kepulauan. Hal ini ada bahwa kita memiliki “laut innavigable” Plato, yang sama disebutkan oleh navigator. seperti Pytheas, Himilco, Hanno dan lain-lain. Inilah Atlantis primordial yang berfungsi sebagai model untuk Atlantis kedua – satu dari Lembah Indus – serta untuk surga segudang serupa lainnya yang kita hadapi dalam semua tradisi agama kuno dan mitologi.

Krakatau gunung berapi dan “laut innavigable” dari atlantis

Fitur lain, pusat unik Atlantis adalah lautan, diberikan “innavigable” sebagai akibat dari bencana tersebut, seperti yang dilaporkan oleh Plato dan otoritas kuno lainnya. Seperti yang telah disebutkan lebih lanjut di atas, lautan Atlantis adalah innavigable karena mereka tertutup tebal dengan bank raksasa mengambang, batu apung-api. Ini apung dikeluarkan oleh ledakan raksasa Gunung vulkanik. Atlas, salah satu yang menyebabkan foundering dari Benua Hilang ..

Fenomena yang sama memang terjadi – di ledakan gunung berapi Krakatau yang telah disebutkan lebih lanjut di atas – dalam skala yang jauh lebih kecil, tapi cukup besar untuk menjadi salah satu bencana terbesar di dunia satu. Pembentukan batu apung – semacam batu “buih” yang terbuat dari kaca mengandung silika – adalah karakteristik dari gunung berapi di Indonesia, dan memang penyebab letusan eksplosif mereka kekuatan tak tertandingi. Fenomena ini cukup mirip dengan “popping” popcorn.

Indonesia – Tempat Adam & Hawa – The Lost Atlantis – (1)

 

1) T: Apa memang Atlantis dan Lemuria?

A: Atlantis merupakan benua Samudra Atlantik di mana, menurut Plato, dan peradaban maju mengembangkan beberapa 11.600 tahun yang lalu. Plato menegaskan bahwa, sebagai hasil dari bencana vulkanik besar sejauh di seluruh dunia, benua ini tenggelam jauh dlm, menghilang untuk selamanya. Ilmu resmi – yang Anda pelajari di sekolah – menolak keberadaan aktual Atlantis, karena sejauh ini tidak dapat menemukan jejak dari realitasnya. Tapi alasan untuk itu adalah sederhana untuk menjelaskan. Semua orang telah mencari di lokasi yang salah, seperti Atlantis memang terletak pada sisi berlawanan dari dunia.

Lemuria, di sisi lain, adalah versi bahkan lebih tua dari Atlantis. Lemuria memang sama dengan Taman Eden dan surga seperti lainnya yang notabene ada dan tempat kelahiran sebenarnya Manusia dan Peradaban, tepatnya sebagai Kitab Suci Alkitab dan lainnya menegaskan. Dari sana, peradaban menyebar ke Atlantis dan bagian lain dari dunia, dalam fajar kali, sekitar 20 atau 30 ribu tahun yang lalu, selama Zaman Es.
Kembali

2) Q: Apa pentingnya Atlantis bagi manusia?

A: Atlantis adalah sumber dari semua Agama, Sains semua dan semua ras dan peradaban. Penemuannya sekarang, di awal sangat Milenium, telah diprediksi dari zaman terdalam, dan memang pesan sebenarnya dari Injil dan Kitab Suci tersebut. Penemuan Atlantis membawa kembali harapan kelahiran kembali dari Zaman Keemasan, dengan janji universal, harmoni cinta kedamaian, dan kebahagiaan bagi seluruh Umat Manusia. Hal ini juga akan menyebabkan revolusi besar dalam pandangan kita tentang dunia dan baik masa lalu dan masa depan kita. Semua ini terjadi sekarang, saat kita memasuki milenium ketiga, Zaman Aquarius.
Kembali

3) Q: Bagaimana Anda bisa mengklaim telah menemukan Atlantis, ketika begitu banyak otoritas besar lainnya telah gagal sebelumnya? Apakah yang satu ini hanyalah ilusi seperti begitu banyak sebelumnya?

J: Tidak, saya tidak menemukan ilusi sama sekali. Pertama, kokoh didasarkan pada hasil ilmiah dari kedua tepat dan ilmu-ilmu manusia. Dan ini termasuk Geologi, Astronomi, Paleontologi, Arkeologi, Linguistik, Etnologi, Mitologi Perbandingan, Perbandingan Agama, Filsafat, dan sebagainya. Kedua, kami memiliki keberuntungan untuk menemukan Kunci mitos kuno dan tradisi, sehingga alegori alkemis sulit dan teka-teki mitos yang terutama harus dilakukan dengan rahasia Atlantis menjadi jelas bagi kita. Masalah Atlantis membutuhkan kedua mendukung, bahwa tradisi Okultisme dan Ilmu “Resmi”.
Kembali

4) T: Anda mengklaim Atlantis terletak di bawah Laut Cina Selatan. Apakah tidak benar bahwa “jika Atlantis, itu harus berada di Samudera Atlantik”?

J: Ya, itu benar. Tetapi kenyataannya adalah bahwa apa yang kita sebut dengan nama “Samudera Atlantik” tidak sama seperti yang dari dahulu. Herodotus, Aristoteles, Plato, Strabo, dan beberapa penulis kuno lainnya yang sangat spesifik pada kenyataan bahwa “Samudera Atlantik” – dinyatakan disebut “Lautan Atlantis”, “Ocean Luar”, “Kronian Samudera”, Mare Oceanum (“Ocean Sea “) atau Mare Magnum (” Laut Besar “) memang seluruh” bumi mengelilingi laut “. Samudra ini dikelilingi seluruh dunia kemudian dikenal, yaitu Eurasia dan Afrika. Dengan kata lain, Samudra Atlantik yang dahulu adalah Samudra Dunia yang memang berbatasan dan mengelilingi dunia seluruh bumi, dan yang sekarang kita sewenang-wenang membagi menjadi Pasifik, Hindia dan Atlantik, meskipun fakta bahwa ketiga yang berbatasan.

Sebuah kutipan dari Aristoteles, murid Plato besar, akan menunjukkan apa yang kita maksud:

“Pria telah membagi bumi yang berpenduduk ke pulau-pulau dan benua yang berbeda. Tapi ini adalah hasil dari ketidaktahuan mereka tentang fakta bahwa seluruh itu adalah hamparan dikelilingi di sisi oleh perairan Samudera Atlantik”. (De Mundo, III: 18)

Herodotus bahkan lebih eksplisit tentang hal ini. Setelah menegaskan bahwa “ada yang bilang [Atlantik] Ocean dimulai di Timur”, ia menambahkan:

“Laut yang sering dikunjungi oleh orang-orang Yunani, bahwa di luar Pilar Hercules, yang disebut Atlantik atau, juga, Erythraean (Samudera Hindia) semua adalah satu dan laut yang sama.” (Hist. I: 203)

Oleh karena itu, kita melihat bahwa Samudera Atlantik atau, lebih tepatnya, Samudera Atlantis, dari orang-orang Yunani kuno zaman Plato dan Aristoteles tidak hanya satu yang kita sebut dengan nama itu, tapi termasuk Samudra Hindia dan bahwa sebagian dari Pasifik laut di sepanjang pantai timur Asia.
Kembali

5) Q: Apakah Atlantis sebuah pulau atau benua?

A: Atlantis adalah sebuah benua. Ibukotanya dipanggil dengan nama yang sama atau oleh Poseidonis, dan terletak di sebuah pulau di sebelah pantainya. Setelah benua ini tenggelam di bawah laut, hanya puncak dari gunung-gunung loftiest tetap di atas air, membentuk apa yang dahulu kemudian tahu sebagai Kepulauan dari Blest, dan yang kita kenal sebagai orang Indonesia.
Kembali

6) Q: Bisakah benua tenggelam?

A: Benua No mengapung isostatically atas magma cair, kurang lebih seperti sebuah kapal atas laut. Tapi laut dapat meningkat – seperti yang mereka lakukan pada akhir Zaman Es – menenggelamkan sebagian besar dari dataran rendah lahan. Sebagai soal fakta, benua yang tenggelam Plato tentang Atlantis merupakan perpanjangan besar dimensi benua di selatan Asia Tenggara disebut Australasia oleh ahli geografi.

Ini benua Pleistocenic luas dikenal lama oleh nama-nama legendaris banyak seperti Elysian Fields oleh orang Yunani, Bidang Reeds (Sekhet Aaru) oleh orang Mesir, Aztlan oleh Mayas, Rutas oleh Hindu, dan sebagainya. Seperti lautan meningkat 100-150 meter pada akhir Pleistosen dan, karena ini tanah yang sangat rendah, mereka tenggelam, dan sekarang membentuk apa yang kita sebut Laut Cina Selatan. Laut ini sangat dangkal, dan rata-rata kedalaman di bawah 60 meter atau lebih. Oleh karena itu, mudah untuk memperhitungkan bahwa wilayah ini unik memang sub-aerial selama Pleistosen.
Kembali

7) Q: Apakah ada sisa-sisa dari sebuah pulau atau benua yang tenggelam di Samudra Atlantik?

J: Tidak terdengar luas dari Cekungan Atlantik keseluruhan selama lebih dari satu abad mengungkapkan tidak ada benua yang tenggelam atau tetap satu di mana saja di Cekungan Atlantik. Faktanya adalah bahwa Eropa dan Afrika yang berbatasan dengan awalnya Amerika Utara dan Selatan, membentuk sebuah benua yang disebut Pangea super (“Whole Earth”) oleh ahli geologi. Karena Continental Drift, benua ini mulai memisahkan sekitar 200 juta lalu, membentuk Samudera Atlantik. Di pusat, di mana benua super dari Pangea sumbing, celah yang dikenal sebagai Great Rift tetap, sebagai semacam bekas luka memisahkan dua Pelat tektonik dan menandai posisi semula.

Dari celah ini, magma vulkanik terus menerus masalah, membentuk pegunungan besar dan menyebabkan lempeng tektonik memisahkan dengan kecepatan sekitar 2,5 cm / tahun. Ini adalah pegunungan – disebut Ridge Mid-Oceanic – yang sering keliru untuk sisa-sisa Atlantis. Tapi, ini hanya terjadi di antara beberapa Atlantologists kuno seperti I. Donnelly, atau dengan orang-orang tidak menyadari kemajuan terbaru Geologi dan Lempeng Tektonik Teori. Selain itu, pulau-pulau di Samudera Atlantik semua kecil, naik langsung dari kedalaman abyssal, tanpa meninggalkan ruang untuk setiap benua cekung atau pulau ukuran besar. Hubungan antara Atlantis dan Laut Sargasso adalah juga masuk akal, karena laut ini memang sangat mendalam, dan tidak pernah diadakan setiap benua atau pulau besar di hamparan luas.
Kembali

8) Q: Thera atau Santorini, kaldera gunung berapi terletak adalah wilayah Yunani dari Laut Mediterania, sering diklaim sebagai sisa-sisa Atlantis oleh Atlantologists beberapa reputasi ilmiah. Apakah pandangan ini dapat dipertahankan?

A: Tidak sama sekali. Plato dan otoritas lainnya yang sangat spesifik pada kenyataan bahwa Atlantis terletak “di luar Pilar Hercules”. Adalah konyol untuk menganggap bahwa Plato akan mengabaikan posisi sebenarnya dari Kreta tetangga dalam kaitannya dengan Gibraltar, atau bahwa ia akan percaya bahwa seluruh benua pernah ada di dalam Basin Mediterania.

Para ilmuwan yang mengusulkan teori ini mendukung diri pada fakta bahwa pulau Thera (Santorini) memang tenggelam oleh ledakan besar gunung api yang menghancurkan pulau kecil. Ledakan ini terjadi pada sekitar 1.700 SM, dan sangat mungkin menyapu peradaban pulau Kreta berdamping dengan tsunami proporsi kolosal. Selain itu, tidak ada bukti yang menghubungkan acara dengan Atlantis, meskipun dua cataclysms jelas similar.By jalan, nama Kreta berarti tepatnya “menyapu bersih [orang]” di Dravida, bahasa Proto-Mcditcrania .

Meskipun namanya, Minoan Crete hanya sedikit terpengaruh oleh bencana tersebut. Ini tidak tenggelam lagi, dan benar-benar mencapai puncaknya setelah itu. Kedua, Minoan Crete pernah membentuk sesuatu seperti kerajaan besar dijelaskan oleh Plato, yang jauh lebih kecil dalam ukuran dan populasi dibandingkan, misalnya, negara-negara seperti Mesir, Mesopotamia, Persia, India, dll.. “Kekuatan-pas” bahwa pendukung tersebut lakukan, menyusut ukuran Atlantis ‘dan tanggal bencana yang dengan faktor sepuluh, sama sekali tidak ilmiah dan tidak dapat dipertahankan sama sekali.
Kembali

9) Q: Apakah ada kemungkinan bahwa Atlantis terletak di kawasan Karibia, karena banyak penulis klaim?

A: Tidak ada sama sekali! Meskipun prediksi Edgar Cayce, tidak ada bukti yang telah muncul sejauh mengkonfirmasikan keberadaan Atlantis di mana saja di wilayah Karibia. Sisa-sisa arkeologi cekung ditemukan di wilayah ini ternyata formasi alami. Pemetaan selam rinci wilayah diungkapkan tidak sisa-sisa dari setiap fitur cekung atau bangunan yang lebih besar yang beberapa meter di sebagian besar. Bukti geologi menghalangi setiap benua cekung atau pulau besar terendam di kawasan Karibia.
Kembali

10) Q: Apakah mungkin Atlantis terletak di Laut Utara, karena beberapa klaim otoritas?

J: Tidak Selama Zaman Es Pleistocene, Skandinavia dan daerah terdekat adalah sebuah kehancuran es, dan tak mungkin mendukung peradaban lezat seperti yang digambarkan oleh Plato. Selain itu, Plato Atlantis sepenuhnya tropis, dengan banyak hutan, sungai dan kanal penuh buah harum, parfum dan vegetasi lebat. Selain itu, berbeda dengan apa yang Plato klaim, Skandinavia dan daerah tetangga tidak pernah tenggelam dlm pergi. Pada kenyataannya, itu masih ada, seperti yang selalu di masa lalu, jauh sebelum orang tangguh yang datang jauh-jauh dari Atlantis, ketika benua ini tenggelam jauh di bawah laut.
Kembali

11) Q: Apa yang membuat Anda begitu yakin bahwa Atlantis tidak terletak di Antartika sebagai Flem-Ath, Bauval, Barat dan lain-lain menegaskan?

J: Gagasan bahwa kerak bumi membalik, mengambil Atlantis dari daerah tropis ke Lingkaran Kutub hanya memamerkan modern dari teori kuno yang disebut Kutub Shift. Tetapi jika Kerak bumi memang membalik – sebuah kemustahilan dalam hal geofisika dan astrofisika – konsekuensi beberapa tentu akan terjadi yang tidak diamati dalam praktek. Seperti kerak solid, itu akan mengambil, jika membalik, Daerah Polar mantan ke Tropics. Efek ini tidak diamati sama sekali dalam skala waktu 10.000 tahun atau lebih dari peristiwa Atlantis.

Selanjutnya, gletser Kutub dan lain-lain seperti salah satu dari Greenland telah dibor baru-baru ini, dan hasil analisis rinci mereka menjalani menunjukkan bahwa mereka telah berada di situs selama satu juta tahun terakhir, setelah terbentuk tanpa jeda sepanjang ruang besar waktu . Selain itu, analisis pallinological baru-baru ini (serbuk sari tanaman) dan orang-orang dari sedimen dasar laut yang dibuat pada skala dunia lagi menunjukkan bahwa bahwa wilayah tersebut telah di lebih atau kurang posisi mereka saat ini selama ratusan juta tahun.

Magnetisme Rock, sekali lagi, mendukung hasil di atas, seperti melakukan selusin orang lain kita bisa mengutip. Tidak, gagasan Pole Shift adalah tidak masuk akal anti-ilmiah. Hasil di atas adalah teori tidak ada, tetapi kenyataannya observasional yang harus diwujudkan dalam setiap teori yang layak dari bumi. Jadi, kecuali Anda adalah seorang fanatik dari beberapa macam, lupakan Pole Shift dan berkonsentrasi pada teori dapat dipertahankan lebih perilaku bumi. Para ilmuwan tidak mungkin memang tahu apa yang menyebabkan Zaman Es. Tapi mereka tidak bodoh, dan juga tahu itu bukan Pole Shift.
Kembali

12) Q: Mengapa begitu banyak lokasi yang berbeda telah diidentifikasi dengan lokasi Atlantis?

A: Untuk satu hal, Atlantis menciptakan sebuah kerajaan di seluruh dunia, dan memiliki koloni di seluruh dunia. Koloni ini seperti biasa, berusaha untuk menduplikasi tanah air, sebagai kolonis yang biasa dilakukan. Kedua, karena berbagai alasan, yang dahulu disembunyikan keberadaan Atlantis sejati, karena takut bahwa kekaisaran, melemah, teratur dan dihancurkan oleh bencana akan menjadi mangsa empuk dari bajak laut, perampok dan penjajah dari segala macam.
Kembali

13) Q: Apa perbedaan antara Atlantis dan Lemuria?

A: Atlantis dan Lemuria telah terlalu terdistorsi dan salah oleh segala macam peneliti dalam apa yang menyangkut kedua zaman dan ukuran dan lokasi. Memang, Atlantis dan Lemuria hidup berdampingan berdampingan, di kurang lebih tanggal yang sama. Lebih tepatnya, Lemuria adalah Atlantis pola dasar, sama seperti Eden atau Surga, tempat asal dari kedua Manusia dan Peradaban. Dari sana, Atlantis Lemurian menjajah wilayah terdekat dari India, yang menjadi “kembar” dan mitra. Dalam hal mistis, kita dapat mengatakan bahwa Lemuria-Indonesia adalah Ibu, dan bahwa Atlantis-India adalah Bapa dari semua peradaban lainnya.
Kembali

14) Q: Apa nama Atlantis menandakan?

J: Hal pertama yang harus diingat adalah bahwa istilah mitos memiliki sejumlah etimologi yang berbeda, dan sering ditafsirkan dalam bahasa yang berbeda, di mana mereka diadaptasi ketika mitos diperkenalkan secara lokal. Misalnya, Atlas berarti, dalam bahasa Yunani, “orang yang tidak bisa (a-) menahan (TLA) [langit].” Atlas dianggap sebagai “Pilar Surga”, yaitu, dukungannya. Ketika Atlas menjadi terbebani, langit jatuh, mengubur Atlantis. Nama-nama Atlas dan Atlantis awalnya berasal dari nama (Bahasa Kudus India) Sansekerta Neraka mereka disebut Atala. Kata ini berarti “Kehilangan Pilar nya” (a-tala) atau, sebaliknya “Bottomless” atau, lebih tepatnya, “Sunken ke Bawah”. Derivasi lanjut Banyak yang belum mungkin. Atlas adalah personifikasi dari Gunung Suci yang merupakan dukungan dari surga. Dia adalah dewa bahwa Hindu menyamakan dengan Shiva, juga disebut Sthanu, yang berarti berjuluk “Pillar of Heaven” dalam bahasa Sansekerta.
Kembali

15) Q: Apa arti dari nama Lemuria?

A: Lemuria awalnya merupakan nama yang diberikan untuk sebuah benua cekung yang luas hipotetis atau landbridge membentang di Samudera Hindia dan Indonesia, semua jalan ke tengah Samudera Pasifik. Hal itu didalilkan oleh para naturalis dari abad yang lalu, untuk menjelaskan kehadiran lemur (primata kecil) baik di Madagaskar dan di Hindia. Namun gagasan ini telah lama lalu telah digantikan dalam geologi modern. Secara kebetulan, lemur memperoleh nama mereka dari yang dari Lemurs (atau “Leluhur”), untuk Indonesia yang lama tahu bahwa manusia turun dari kera.

Oleh karena itu, nama Lemuria dapat diartikan sebagai “Tanah Leluhur” atau “Tanah Leluhur”. Atau, nama dapat berasal dari bahwa dari Mu atau Mu-devi, Ibu Dewi Hindu. Mu berarti “Ibu” di Dravida, dan Mu-devi berarti “Ibu Dewi”. Dengan kata lain, Mu (atau Mu-devi) – juga disebut Uma dalam bahasa Sansekerta – adalah personifikasi dari Lemurian Atlantis sendiri, Tanah Air Kemanusiaan. Demikian pula, Shiva, suaminya dan rekan, adalah “Bapa Besar” Manusia.
Kembali

16) Q: Anda mengklaim telah menemukan situs sebenarnya Atlantis. Apakah ada yang pernah mengusulkan sebuah situs Indonesia sebelum?

A: Yang satu ini merupakan pertanyaan yang sangat menarik. Dari seribu beberapa buku yang telah ditulis tentang Atlantis, tak satu pun pernah mengusulkan lokasi di situs yang benar, yaitu Indonesia. Dan kenapa begitu? Karena mereka telah mencari Atlantis di sisi yang salah dari dunia, terutama pada alasan etnosentris. Tidak ada yang pernah menyadari bahwa cradle sebenarnya dari Arya tidak pernah Pegunungan Kaukasus atau Asia Utara, tapi memang Indonesia, situs sejati Eden.

Ketika Paradise murni mereka tenggelam jauh dlm, Arya, seperti ras-ras lain dari Eden, pindah, ke India pertama, dan dari sana ke daerah yang jauh seperti Kepulauan Inggris (Celtic), Skandinavia (Norse), dan bahkan Amerika (Pahlawan membudayakan Putih seperti Quetzalcoatl dan Viracochan). Begitu pula dengan Dravidas, rekan-rekan mereka lebih gelap dan “kembar”, lahir di Atlantis purba dari Indonesia.
Kembali

17) Q: Bagaimana Atlantis benar-benar menghancurkan?

J: Dengan menggunakan bencana raksasa kita sebut air bah. Pandangan di Banjir – dan memang pada cataclysms global secara umum – telah terlalu salah saji oleh ahli geologi sejak zaman Darwin dan Lyell. Cataclysms kisaran proporsi besar sampai ke Big Bang, dan merupakan ciri utama dari Evolusi itu sendiri. Mereka telah terjadi oleh ribuan di bumi di masa lalu, dan berlimpah dibuktikan dalam catatan geologis, bersama dengan kepunahan Kehidupan yang mereka disebabkan sepanjang waktu.

Cukup sering mereka disebabkan oleh dampak meteor / planet ekstra-terestrial asal. Jauh lebih sering, mereka disebabkan oleh ujung dahsyat dari Episode Ice Age yang telah terjadi cukup teratur pada interval dari 30.000 tahun atau lebih. Banjir ini memang disebabkan oleh satu tersebut, dan hanya yang terakhir dari serangkaian panjang cataclysms serupa proporsi global.

Seperti banyak mitos menggambarkannya, Banjir itu disebabkan oleh ledakan vulkanik raksasa bawah laut yang menimbulkan lautan, mengirim mereka atas benua. Jadi, air mencapai hingga puncak gunung paling tinggi, membunuh semua kehidupan di jalan mereka. Ledakan gunung berapi kolosal juga menutupi langit dengan abu dan air menguap, sehingga, memang, “hujan selama 40 hari dan 40 malam” dan langit yang gelap dan suram untuk waktu yang lama. Peristiwa itu terjadi beberapa 11.600 tahun yang lalu, dan menyebabkan akhir Pleistocene atau, lebih tepatnya, dari episode terakhir glasial nya.
Kembali

18) Q: Apakah ada hubungan antara Banjir dan Penghancuran Atlantis?

A: Ya, memang. Atlantis sebenarnya hancur oleh bencana kita sebut air bah. Banjir ini tidak hanya penemuan Alkitab atau copy, melainkan sebuah fakta yang tercatat dalam ratusan mitologi, di seluruh dunia, dengan konsistensi yang luar biasa. Banjir itu memang tsunami raksasa (sering benar disebut “gelombang pasang”) yang disebabkan oleh gempa bawah laut yang sangat besar. Sisa-sisa banjir yang terlihat di mana-mana, tetapi khususnya di benua Amerika Utara, sebagai ahli geologi mulai menyadari.

Ini tsunami dan konsekuensi lain dari bencana yang menyebabkan kematian, mendadak atau tidak, dari sekitar 70% dari spesies utama mamalia besar yang pernah roved bumi. Realitas Banjir itu konsensualisme diterima oleh naturalis dari abad yang lalu. Namun Darwin dan Lyell memperkenalkan konsep uniformitarianisme (negasi dari cataclysms), yang menjadi paradigma ini ilmu geologi. Namun, ahli paleontologi dan ahli geologi yang lebih baik yang cepat kembali ke arah pandangan kuno, yang tidak hanya Sejarah Suci, namun Realitas itu sendiri, seperti yang kita tahu dalam penelitian kami tentang masalah tersebut.
Kembali

19) Q: Apa, jika ada, adalah sisa-sisa yang masih ada dari Atlantis?

J: paideuma (atau “Jiwa”) dari Atlantis begitu hadir di semua hal yang kita lakukan bahwa itu adalah sebagai sulit untuk diamati karena udara yang kita napas. Pada dasarnya, seluruh peradaban – hal dan ide-ide yang membuat sesuatu Manusia lebih dari sekedar binatang biasa – bukan berasal langsung dari Atlantis. Agama kita, Sihir dan Ramalan, Hukum dan Perintah Allah, Kitab Suci kita, Filsafat dan metafisika, Matematika dan Astronomi kami, Musik dan Puisi kita semua datang kepada kami dari Atlantis. Heran, kemudian, bahwa begitu banyak penulis menemukan sisa-sisa Atlantis di mana-mana, salah satu salinan untuk hal yang nyata.

Selain itu, kami juga mencakup Atlantis warisan seni dan teknik seperti Pertanian dan Domestikasi Hewan, penemuan terbesar yang pernah. Tanpa tanaman dan hewan peliharaan – sebagian besar atau semua yang berasal dari Atlantis, dan sering mewujudkan suatu penggunaan lanjutan dari rekayasa genetika – Peradaban tidak pernah bisa dikembangkan sama sekali. Selain ini, serangkaian penemuan asal misterius, yang datang kepada kami dari waktu subuh, juga berutang ke Atlantis dan Lemuria: metalurgi, pasangan batu dan patung, kertas, alfabet, obat obat, mesiu, tenun, dan sebagainya pada.
Kembali

20) Q: Apakah ada hubungan antara Atlantis dan Piramida Besar?

A: Ya. Piramida Agung – dan memang piramida di seluruh dunia – merupakan Gunung Suci, yang tidak lain adalah Mt. Atlas, Pilar Surga yang merupakan fitur utama dari Atlantis. Gunung Atlas adalah pada kenyataannya gunung berapi raksasa yang menghancurkan Atlantis ledakan, menyebabkan banjir dan akhir Pleistocene. Di India, ini Gunung Kudus – yang ada dalam tradisi sebagian besar – disebut Mt. Meru, Gunung Suci surga.

Dalam Yudeo-Kristianisme, Gunung Suci adalah berbagai dialegorikan sebagai Mt. Zion, Mt. Sinai, Mt. Golgota (Kalvari atau), dan sebagainya. Dalam tradisi Mesir, dewa mati terkubur di dalam gunung Kudus diwakili oleh Piramida Agung adalah Osiris, padanan yang tepat dari Siwa dan Atlas, dewa yang mempersonifikasikan Gunung Suci itu sendiri, sebagai “Pilar Surga”. Osiris juga melambangkan orang banyak mati Atlantis, nenek moyang kita tewas oleh bencana mengerikan yang menghancurkan surga kami murni. Untuk dewa memang ada hal selain paideuma bangsa, dan mati ketika mereka pergi, seperti Atlantis lakukan. Hal ini dalam kualitas hidupnya Osiris bahwa firaun kadang-kadang terkubur di dalam piramida.
Kembali

21) Q: Apakah ada hubungan antara Atlantis dan Millennium?

J: Yang pasti, ada. Kehancuran Atlantis adalah berbagai dialegorikan sebagai Kematian Tuhan yang kita miliki di hampir semua tradisi agama: kematian Osiris, salah satu Kristus, bahwa Adonis, Attis, Kronos, Tammuz, Baal, Dionysus Zagreus, dan segudang lain. Secara simbolis yang lebih, kematian Atlantis juga dialegorikan oleh kematian Banteng atau, bahkan lebih baik, dengan bahwa dari Phoenix. Tetapi kematian Tuhan juga diikuti oleh kebangkitan-Nya, yang juga merupakan kebangkitan Phoenix.

Oleh karena itu, sama seperti Kristus akan kembali, bersama-sama dengan Yerusalem Surgawi, sehingga akan Phoenix yang juga mewakili Atlantis sebagai Celestial City. Dan ini kembali dari Phoenix yang benar-benar salah satu Atlantis memang diprogram lama terjadi barusan, mulai pada pergantian milenium ini akhir dari umat manusia. Ini adalah Milenium dinubuatkan dalam Kitab Wahyu, dan dalam sumber-sumber lain segudang. Dan itulah mengapa Anda akan melihat Atlantis dilahirkan kembali dalam mitos baik dan pada kenyataannya, dari buaian rahasia di Timur Jauh.
Kembali

22) Q: Apa peradaban kuno diciptakan atau dipengaruhi oleh Atlantis?

J: Atlantis menciptakan koloni di seluruh dunia. Beberapa yang besar, yang lain kecil, dan lebih primitif, karena mereka menerima pengaruh yang lebih rendah dari Atlantis. Atlantis adalah “Dewa”, atau “Malaikat” atau “Heroes peradaban” yang kita temukan di dasarnya semua tradisi. Mereka adalah Nagas dari India dan Indonesia, Oannes dari Sumero-Babel, Cabeiri dan Corybants atau, namun, para Pahlawan seperti Hercules, Prometheus dan Cadmus dari Yunani dan Romawi, dan seterusnya.

Di Amerika dan di Oceania, kami memiliki dasarnya tradisi yang sama pada Heroes atau Tuhan seperti Quetzalcoatl, Kukulkan, Viracochan, Bochica, Sume, Kon, Tiki, dan sebagainya. Sangat sering para pahlawan membudayakan adalah Titans atau Nagas, raksasa putih perkasa dari Atlantis. Naga panjang (“Naga”, “Serpent”) adalah pada asal mitos Hero peradaban yang membunuh Naga dan memulai peradaban lokal hampir di mana-mana.

Pada kenyataannya, Naga dan Hero mewakili dua balapan dari Atlantis, para Dravidas dan Arya, satu gelap, lebih putih lainnya, yang berjuang untuk hegemoni di mana-mana. Mereka adalah si Kembar dari semua mitologi, dua ular bersaing dari Caduceus (atau dari Ouroboros dan uraeus) yang memakan satu sama lain dalam perang tak berujung dari primordials umat manusia hingga hari ini. Tapi perang mereka akan berhenti pada kedatangan Milenium (now!), untuk mengembalikan Zaman Keemasan berarti bahwa: “Anak Domba akan berbaring terluka dengan singa”.
Kembali

23) Q: Apakah Anda menulis buku-buku tentang Atlantis?

A: Ya, buku baru saya di Atlantis baru-baru ini dirilis dalam bahasa Inggris. Untuk informasi lebih lanjut klik di sini.
Kembali

24) Q: Siapa kau, sih?

A: Saya seorang ilmuwan profesional dengan gelar Doktor, lulusan Teknik Elektro, dan Profesor Fisika Nuklir di Universitas Federal Minas Gerais, Brasil. Selama lebih dari 27 tahun saya telah mempelajari Occult, dan terutama masalah Atlantis. Banyak saya terkejut – karena aku berangkat untuk membantah teori tersebut – saya menemukan bahwa Benua Hilang memang ada, dan pada kenyataannya jauh lebih maju dari sebelumnya bermimpi oleh siapapun. Jika Anda ingin, Anda dapat membaca dengan teliti Curriculum Vitae saya.

Gunung Toba – Gunung Terbesar yang Pernah Ada

Sumber : Wikipedia

Gunung Toba adalah gunung api raksasa yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu.

Daftar isi

Bukti ilmiah

Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung. Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.

Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan. Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.

Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.

Berada di tiga lempeng tektonik

Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.

Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran. Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.

Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.

Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini. Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 ribu tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.

Letusan

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.

  • Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
  • Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.
  • Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano biasa rata-rata kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolcano dapat mencapai puluhan kilometer.

Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama. Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.

Letusan Gunung Toba – Terbesar dalam Sejarah

Toba catastrophe theory

From Wikipedia, the free encyclopedia
Toba supereruption
Tobaeruption.png
Illustration of what the eruption might have looked like from approximately 26 miles (42 km) above Pulau Simeulue.
Volcano Lake Toba
Date Between 69,000 and 77,000 years ago
Type Ultra Plinian
Location Sumatra, Indonesia
2.6845°N 98.8756°ECoordinates: 2.6845°N 98.8756°E
VEI 8
Impact Most recent supereruption; plunged Earth into a 6- to 10-year-long volcanic winter, causing a bottleneck in human evolution and significant changes to regional topography.
Toba zoom.jpg
Lake Toba is the resulting crater lake

The Toba supereruption (Youngest Toba Tuff or simply YTT[1]) was a supervolcanic eruption that is believed to have occurred sometime between 69,000 and 77,000 years ago at Lake Toba (Sumatra, Indonesia). It is recognized as one of the Earth‘s largest known eruptions. The related catastrophe hypothesis holds that this event plunged the planet into a 6-to-10-year volcanic winter and possibly an additional 1,000-year cooling episode. This change in temperature is hypothesized to have resulted in the world’s human population being reduced to 10,000 or even a mere 1,000 breeding pairs, creating a bottleneck in human evolution.

The Toba event is the most closely studied supereruption. In 1993, science journalist Ann Gibbons first suggested a link between the eruption and a bottleneck in human evolution. Michael R. Rampino of New York University and Stephen Self of the University of Hawaii at Manoa quickly lent their support to the idea. The theory was further developed in 1998 by Stanley H. Ambrose of the University of Illinois at Urbana-Champaign.

Contents

Supereruption

The Toba eruption or Toba event[2] occurred at what is now Lake Toba about 73,000±4,000 years[3][4] ago. The Toba eruption was the latest of the three major eruptions which occurred at Toba in the last 1 million years.[5] The last eruption had an estimated Volcanic Explosivity Index of 8 (described as “mega-colossal”), or magnitude ≥ M8; it thus made a sizeable contribution to the 100 × 30 km2 caldera complex.[6] Dense-rock equivalent estimates of eruptive volume for the eruption vary between 2,000 km3 and 3,000 km3, but the most frequently quoted DRE is 2,800 km3 (about 7×1015 kg) of erupted magma, of which 800 km3 was deposited as ash fall.[7] It was two orders of magnitude greater in erupted mass than the largest volcanic eruption in historic times, in 1815 at Mount Tambora in Indonesia, which caused the 1816 “Year Without a Summer” in the northern hemisphere.[8]

Although the Toba eruption took place in Indonesia, it deposited an ash layer approximately 15 centimetres thick over the entirety of South Asia. A blanket of volcanic ash was also deposited over the Indian Ocean, and the Arabian and South China Sea.[9] Deep-sea cores retrieved from the South China Sea extended the known distribution of the eruption and suggest that the 2,800 km3 calculation of the eruption magnitude is a minimum value or even an underestimate.[10]

Volcanic winter and cooling

The apparent coincidence of the eruption with the onset of the last glacial period attracted the scientists’ interest. Michael L. Rampino and Stephen Self argued that the eruption caused a “brief, dramatic cooling or ‘volcanic winter’”, which resulted in a global mean surface temperature drop of 3–5 °C and accelerated the glacial transition from warm to cold temperatures of the last glacial cycle.[11] Zielinski showed Greenland ice core evidence for a 1,000-year cool period with low δ18O and increased dust deposition immediately following the eruption. He further suggested that this 1,000-year cool period (stadial) could have been caused by the eruption, and that the longevity of the Toba stratospheric loading may account at least for the first two centuries of the cooling episode.[12] Rampino and Self believe that global cooling was already underway at the time of the eruption, but the procedure was extremely slow; YTT “may have provided the extra ‘kick’ that caused the climate system to switch from warm to cold states.”[13] Oppenheimer discounts the arguments that the eruption triggered the last glaciation,[14] but he accepts that it may have been responsible for a millennium of cool climate prior to the Dansgaard-Oeschger event.[15]

According to Alan Robock,[16] the Toba incident did not initiate an ice age. Using an emission of 6 billion tons of sulphur dioxide, his simulations demonstrated a maximum global cooling of around 15 °C, approximately three years after the eruption. As the saturated adiabatic lapse rate is 4.9 °C/1,000 m for temperatures above freezing,[17] this means that the tree line and the snow line were around 3,000 m (9,900 ft) lower at this time. Nevertheless, the climate recovered over a few decades. Robock found no evidence that the 1,000-year cold period seen in Greenland ice core records was directly generated by the Toba eruption. Nevertheless, he argues that the volcanic winter would have been colder and longer-lasting than Ambrose assumed, which strengthens his argument for a genetic bottleneck. Contrary to Robock, Oppenheimer believes that estimates of a surface temperature drop of 3–5 °C after the eruption are probably too high; a figure closer to 1 °C appears more realistic.[18] Robock criticized Oppenheimer’s analysis, arguing that it is based on simplistic T-forcing relationships.[19]

Despite the different approaches and estimates, scientists agree that a supereruption like the one at Lake Toba must have led to very extensive ash-fall layers and injection of noxious gases into the atmosphere, having severe worldwide effects on climate and weather.[20] Additionally, the Greenland ice core data display an abrupt climate change around this time,[21] but there is no consensus that the eruption directly generated the 1,000-year cold period seen in Greenland or triggered the last glaciation.[22]

Genetic bottleneck theory

Ann Gibbons first suggested, in an article in the October 1993 edition of Science, that a bottleneck in human evolution about 50,000 years ago could be linked to the Toba eruption.[23] Rampino and Self backed up this idea in a letter to the journal later that year.[24] The bottleneck theory was then further developed by Ambrose in 1998 and Rampino & Ambrose in 2000, who invoked the Toba eruption to explain a severe culling of the human population.[25]

According to the supporters of the genetic bottleneck theory, between 50,000 and 100,000 years ago, human population suffered a severe population decrease—only 3,000 to 10,000 individuals survived—followed eventually by rapid population increase, innovation, progress and migration.[26] Several geneticists, including Lynn Jorde and Henry Harpending, have proposed that the human race was reduced to approximately five to ten thousand people.[27] Genetic evidence suggests that all humans alive today, despite apparent variety, are descended from a very small population, perhaps between 1,000 to 10,000 breeding pairs about 70,000 years ago.[28] Note that this is an estimate of ancestors, not of total human population. Isolated human populations that eventually died out without descendants may have also existed in numbers that cannot be estimated by geneticists.

Ambrose and Rampino proposed in the late 1990s that a genetic bottleneck could have been caused by the climate effects of the Toba eruption. The supporters of the Toba catastrophe theory suggest that the eruption resulted in a global ecological disaster with extreme phenomena, such as worldwide vegetation destruction, and severe drought in the tropical rainforest belt and in monsoonal regions. Τhis massive environmental change created population bottlenecks in species that existed at the time, including hominids;[29] this in turn accelerated differentiation of the reduced human population. Therefore, Toba may have caused modern races to differentiate abruptly only 70,000 years ago, rather than gradually over one million years.[30] Robock believes that, indeed, a 10-year volcanic winter triggered by YTT could have largely destroyed the food supplies of humans and therefore caused a significant reduction in population sizes.[31]

Gene analysis of some genes shows divergence anywhere from 60,000 to 2 million years ago. This does not contradict the Toba theory, however, because Toba is not conjectured to be an extreme bottleneck event. The complete picture of gene lineages, including present-day levels of human genetic variation, allows the theory of a Toba-induced human population bottleneck.[32]

However, research by archaeologist Michael Petraglia’s team cast doubt on Ambrose’s theory. Petraglia and his team found stone tools in southern India, above and below a thick layer of ash from the Toba eruption. The tools from each layer were remarkably similar, and Petraglia says that this shows that the huge dust clouds from the eruption did not wipe out the local population of people:[33][34][35][36][37]

A 2009 study by Martin A. J. Williams’s team challenges Petraglia’s findings. Williams analysed pollen from a marine core in the Bay of Bengal with stratified Toba ash, and argued that the eruption caused prolonged deforestation in South Asia. Ambrose, who is a co-author of the study, calls the evidence “unambiguous”, and further argues that YTT may have forced our ancestors to adopt new survival strategies, which permitted them to replace Neanderthals and “other archaic human species”.[38] However, both Neanderthals in Europe and the small-brained Homo floresiensis in Southeastern Asia survived YTT by 50,000 and 60,000 years respectively.[39]

Oppenheimer accepts that the arguments proposed by Rampino and Ambrose are plausible, but they are not yet compelling for two reasons: it is difficult to estimate the global and regional climatic impacts of the eruption, and, at the same time, we cannot conclude with any confidence that the eruption actually preceded the bottleneck.[40] Furthermore, a 2010 geneticists’ study seems to question the foundations of the Toba bottleneck theory: analysis of Alu sequences across the entire human genome has shown that the effective human population was already less than 26,000 as far back as 1.2 million years ago, suggesting that no Toba bottleneck was necessary. Possible explanations for the low population size of human ancestors may include repeated population bottlenecks or periodic replacement events from competing Homo subspecies.[41]

Genetic bottlenecks related to the human population

Evolutionary biologist Richard Dawkins has postulated that human mitochondrial DNA (inherited only from one’s mother) and Y chromosome DNA (from one’s father) show coalescence at around 140,000 and 60,000 years ago respectively. In other words, all living humans’ female line ancestry trace back to a single female (Mitochondrial Eve) at around 140,000 years ago. Via the male line, all humans can trace their ancestry back to a single male (Y-chromosomal Adam) at 60,000 to 90,000 years ago.[42]

This is consistent with the Toba catastrophe theory which suggests that a bottleneck of the human population occurred c. 70,000 years ago, proposing that the human population was reduced to c. 15,000 individuals[43] when the Toba supervolcano in Indonesia erupted and triggered a major environmental change, including a volcanic winter. The theory is based on geological evidences of sudden climate change at that time, and on coalescence evidences of some genes (including mitochondrial DNA, Y-chromosome and some nuclear genes)[44] and the relatively low level of genetic variation among present-day humans.[43]

However, such coalescence is genetically expected and does not, in itself, indicate a population bottleneck, because mitochondrial DNA and Y-chromosome DNA are only a small part of the entire genome, and are atypical in that they are inherited exclusively through the mother or through the father, respectively. Most genes in the genome are inherited randomly from either father or mother, thus can be traced back in time via either matrilineal or patrilineal ancestry.[45] Research on many (but not necessarily most) genes find various coalescence points from 2 million years ago to 60,000 years ago, according to the genes considered, thus disproving the existence of more recent extreme bottlenecks (i.e. a single breeding pair).[43][46]

On the other hand, in 2000, a Molecular Biology and Evolution paper suggested a transplanting model or a ‘long bottleneck’ to account for the limited genetic variation, rather than a catastrophic environmental change.[47] This would be consistent with suggestions that in sub-Saharan Africa human populations could have dropped at times as low as 2,000, for perhaps as long as 100,000 years, before numbers began to expand again in the Late Stone Age[48]

TMRCAs of loci, Y chromosome, and mitogenomes compared to their probability distributions if one assumes that population expanded 75kya from a long-standing population of 11,000 effective individuals

One early oversight of many early studies is that the fixation of alleles (the object of coalescent theory study) is not a discrete mathematical function, but a probabilistic function, and it is highly dependent on the ploidy being studied.

Takahata (1999) was the first molecular anthropologist to point out that conclusions drawn from single locus studies suffer from the large randomness of the fixation process. Schaffner (2004) has cleared up this issue by demonstrating the three sets of fixation ranges, haploid, X-linked and diploid where TMRCAs for different loci are expected to fall. Takahata (1993) estimated the effective human population size at 11,000 individuals, and Schaffner working on an improved set of X-linked markers from low recombination regions of the X-chromosome identified an effective size of approximately 12,000 individuals.[49][50] PDHA1 falls on the edge of fixation times for X-linked chromosome. For autosomes, the MX1 locus and the HLA loci appear to preserve past diversity in the human population. With few exceptions, however, X-linked and autosomes appear to coalesce under a common population size.

Just as mitochondria are inherited matrilineally, Y-chromosomes are inherited patrilineally.[51] Y chromosomal TMRCA, the time of the Y-chromosomal Adam, lie in the 42 to 110ky range, which is a little less than half the TMRCA of mtDNA. Importantly, the genetic evidence suggests that the most recent patriarch of all humanity is much more recent than the most recent matriarch, suggesting that ‘Adam’ and ‘Eve’ were not alive at the same time. While ‘Eve’ is believed to have lived more than 140,000 years ago, ‘Adam’ appears to have lived less than 110,000 years ago.[43] According to Wilder et al. (2004), the lower TMRCA of Y is due to an effective population size of males 1/2 that of females over most of human evolution.[52]

Even with a reduced effective population size there are problems with this explanation. Recently, with more mitogenomic sequences from Africa, evidence has grown for an early population size expansion. This expansion probably started prior to 100,000 years ago and greatly increasing after 100,000 years ago. The effective size of the human population should have well exceeded 104 individuals between 80,000 to 120,000 years ago. Given this expansion, implicit male populations sizes would have improbably coalesced to Y-Adam within that time frame. However, the greatest age for Y TMRCA is more recent than the evidence for expansion. In addition, despite evidence of a bottleneck, the human mtDNA TMRCA range remains consistent with population sizes estimates from X-linked and autosomal loci. However, Y-chromosomes TMRCA is not consistent with mtDNA or either of these sets (see figure:TMRCAs of loci).

This inconsistency may be explained by some form of Y chromosome selection (cultural, or genetic). A Y-chromosomal lineage might have swept the male population.[53] However, if true the place of greatest Y chromosomal diversity could be anywhere that humans inhabited Africa. However, Y diversity is greatest in Southern Africa, close to the earliest female population split predicted by Behar et al. (2009) suggesting the earliest branch in Y should be between 125,000 and 150,000 Ka in age. This suggests a SNP rate inaccuracy in the Y-chromosomal and/or mtDNA molecular clock. A recent study of X-chromosome suggests that different rates of male sperm production between humans and chimps has altered the molecular clock in sex chromosomes.[54] This shift in the molecular clock would not affect the mtDNA SNP rate and would affect the Y-chromosomal rate more than X-linked and autosomes, since these Y-chromosomal lineages spend the most time in male testes.

The term bottleneck has been used to describe the population structure that created mtDNA Eve. The appearance of a bottleneck was a consequence of the appearance of a ‘big bang’ of HVR branching about the time humans first left Africa. From that point back to the TMRCA was less than 100,000 years and the population size estimate was below 5000 effective females. Looking backwards in time this is what might be called a retrograde bottleneck, however it is an artifact of coalescence process, since the coalescence of mitogenomes on the sequence of the MRCA (the event which initiated with mtDNA Eve and extended to the extant population) conceals the population size from all points earlier than that mutation (see figure Retrograde look at bottlenecks). Therefore the population size could have been of equal size going back 100,000s of years, to the time in which Neanderthals’ ancestors and Modern humans’ ancestors were part of a single population.

Evidence against a population bottleneck

The work done on Neanderthal sequencing (Green 2007) has identified little evidence of Neanderthal contribution to humans, moreover it describes an effective size of the population when humans and Neanderthals split was about 3000 individuals. Taken in the light of Schaffner’s and Takahata’s effective populations sizes, 3000 < Ne, female < 6000 and 2000 < Ne, male < 4000 does not appear to represent a magnitude shift downward from the average size. Taking a null hypothesis, prior to and after the mtDNA MRCA population sizes appear to reflect long-term small population structure up until 70,000~150,000 years ago, not a brief constricting bottleneck, but a long period of constrained size followed by an expansion.

Evidence for a population bottleneck

Confidence intervals of population size do not require an alternative, population bottleneck, hypothesis. However, a bottleneck may have existed. If the population size were at 12,000 individuals as suggested by X-chromosomal studies, the Ne for mtDNA and Y in particular, is below the expected median TMRCAs (See image Above and on the left). Y chromosome and mtDNA may be more representative of population structure immediately prior to expansion. However, meshing mtDNA TMRCA and Y TMRCA is problematic. If these two loci could be treated together, they would likely fall significantly below the X-linked and autosome-derived size estimates for any given TCHLCA.

Most probable number of effective females based on TMRCA, showing the best estimate, and how Takahata’s and Shaffners estimates compare (after conversion of Ne to Ne females)

Atkinson, Gray & Drummond (2009) show that prior to 150,000 years ago the population could have been as low as 1000 effective females (~1500 total, 4500 census) and as high as 11,000 effective females with a lower population size between 150,000 to 200,000 years ago. Whereas X-chromosome and autosomes warrant larger population size minima, thousands of females, these loci of larger ploidy are capable of sensing population structure of much longer periods. Such periods may include recent and ancient population structures and size oscillations. Most population structure models for Africa have assumed much of the growth occurred very recently, however Atkinson et al. (2009) shows that by 100,000 years ago the minimum female population size exceed the estimated population size for females. The flat population/recent growth model is troubled in considering an ancient population core in Tanzania (Gonder. et al. (2007) early East African/Khoisan split (Behar et al. 2008), and spread of L2 in parts of Africa where L0 and L1 are found in low abundance. Simply, the evidence of lineage growth appears to correlate with growth in geographic regions in which humans live. Retrospectively, this suggests that population size was growing as new lineages appears to expand territory. Comparing these observations with populations sizes suggested by X-chromosome (~7000 females) one might expect a low stand of the human population size of 1/3 to 1/2 this size between 150,000 to 250,000 years ago. This indicates that earlier periods had a reciprocal, or larger size (>7000 females) between 200,000 and 500,000 years ago.

Other authors such as Endicott et al. (2009) think that bottlenecks in the human prehistory were such a common feature that they interfere with TMRCA determinations and imply the possible effect of the OIS-6 on population size reduction with a TMRCA around the time of late pliestocene climate optimum, approximately 120,000 years ago.

Human parasite: analysis of louse genes

Alan Rogers, a co-author of this study and professor of anthropology at the University of Utah, says: “The record of our past is written in our parasites.” Rogers and others have proposed the bottleneck may have occurred because of a mass die-off of early humans due to a globally catastrophic volcanic eruption. The analysis of louse genes confirmed that the population of Homo sapiens mushroomed after a small band of early humans left Africa sometime between 150,000 and 50,000 years ago.[55]

Human pathogen: analysis of Helicobacter pylori genes

Recent research states that genetic diversity in the pathogenic bacterium Helicobacter pylori decreases with geographic distance from East Africa, the birthplace of modern humans. Using the genetic diversity data, the researchers have created simulations that indicate the bacteria seem to have spread from East Africa around 58,000 years ago. Their results indicate modern humans were already infected by H. pylori before their migrations out of Africa, and H. pylori remained associated with human hosts since that time.[56]

Genetic bottlenecks of other mammals

The eruption may have also caused bottlenecks or extinctions in some animals (especially those in Southeast Asia, India, far north as China and as far west as Europe and Africa). The populations of the Eastern African chimpanzee,[57] Bornean orangutan,[58] central Indian macaque,[59] the cheetah, the tiger,[60] and the separation of the nuclear gene pools of eastern and western lowland gorillas,[61] all recovered from very low numbers around 70,000–55,000 years ago.

Migration after Toba

It is currently not known where human populations were living at the time of the eruption. The most plausible scenario is that all the survivors were populations living in Africa, whose descendants would go on to populate the world. However, recent archeological finds, mentioned above, have suggested that a human population may have survived in Jwalapuram, Southern India.[62]

Recent analyses of mitochondrial DNA have set the estimate for the major migration from Africa from 60,000–70,000 years ago,[63] around 10–20,000 years earlier than previously thought, and in line with dating of the Toba eruption to around 66,000–76,000 years ago. During the subsequent tens of thousands of years, the descendants of these migrants populated Australia, East Asia, Europe, and the Americas.

It has been suggested that nearby hominid populations, such as Homo erectus soloensis on Java, and Homo floresiensis on Flores, survived because they were upwind of Toba.[64]